Belajar Memahami Anyelir
Oleh: Inama Anusantari
Pandemi bagi sebagian besar orang memang merupakan sebuah musibah. Semua
roda kehidupan terkena dampakbaik dampak negatif maupun positif. Dampak negatif bukan hanya terjadi pada dibidang ekonomi, namun dunia
pendidikan juga merasakan dampak yang luar biasa. Namun, bukan hanya dampak
negatif, nyatanya dengan adanya pandemi, orang-orang menjadi lebih perhatian
dengan kebersihan dan kesehatan. Orang-orang menjadi sadar bahwa olahraga itu
penting, buktinya olahraga bersepeda sudah mulai menjamur sejak tahun lalu.
Meskipun masih banyak pro kontra juga sih mengenai motivasi bersepeda. Namun
terlepas dari semua itu, yang penting sudah sadar berolahraga saja sudah sangat
bagus kok.
Pedagang
tanaman hias juga merasakan dampak, tentu saja dampak positif. Sebab,
orang-orang beralih dan berbondong-bondong memiliki hobi berkebun (menanam
tanaman hias dan bunga). Apakah penulis juga termasuk? Hmm, kalau penulis sih
sebenarnya bukan hobi, namun udah kebiasaan aja, maklum anak petani. Hehehe
Sejak awal penulis memang suka bercocok tanam, namun lebih suka menanam
sayur-mayur dan buah-buahan. Prinsip awal sih kalau mau menanam ya harus
memiliki output yang jelas (maksudnya bisa dimakan). Namun makin kesini
penulis terkena “racun” dari seorang teman.
Penulis
memiliki seorang teman yang hobi menanam bunga, sebut saja namanya Melati (nama
samara). Namanya memang harus penulis samarkan! Kenapa? Karena nanti kalau
viral penulis bisa ditagih royalti kan makin ribet urusannya. Langsung saja,
pada bulan Agustus tahun 2020 yang lalu, Melati mengajak penulis ke sebuah kedai/toko/penjual
bunga hidup (kalau mau tau tokonya silahkan tinggalkan komentar ya!) Jenis
bunga yang dijual lengkap dengan harga yang terjangkau. Nah, disinilah penulis
mulai menyukai bunga-bunga. Saat itu pilihan penulis jatuh pada Bunga Lavender,
Anyelir, Rose Mini, Petunia, dan sebagainya (penulis lupa).
Sekian banyak bunga yang penulis beli, penulis menaruh harapan besar kepada Anyelir.
Saat itu penulis membeli Anyelir Putih+Pink dan Merah. Menanam Anyelir
merupakan hal yang baru bagi penulis. Oleh karena itu penulis mencari tahu
bagaimana cara merawatnya, tentu saja melalui mesin andalan pencari informasi,
apa lagi kalau bukan Google. Detik berganti menit, menit berganti jam,
jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Setelah hampir
5 bulan berlalu, penulis merasa hopeless, Anyelir Putih + Pink tinggal
kenangan dan hanya meninggalkan si Merah.
Akhirnya
atas inisiatif sendiri penulis mencoba merubah lokasi Anyelir Merah yang semula
berada di halaman rumah menjadi di teras rumah. Memang butuh kepekaan yang
ekstra untuk memahami Anyelir. Anyelir tidak suka dengan Matahari, namun
apabila tidak terkena matahari juga akan layu. Anyelir tidak suka dengan banyak
air, apabila kebanyakan air juga akan mati. Sehingga penulis mencoba memberikan
jadwal khusus untuk proses pengairan, yaitu dua hari sekali dengan jumlah air
sedang, tidak banyak dan tidak sedikit.
Penulis
tidak menggunakan pupuk kimia, pupuk yang penulis pakai adalah pupuk kompos. Media
tanam Anyelir yang penulis pakai adalah tanah+tanah kompos dengan perbandingan
1:1. Tanah di rumah penulis merupakan tipe tanah “ceket” gimana ya
penulis jelasinnya, pokoknya tanah nya keras, kalau kena air lengket, ya tanah
khas pedesaan/pegunungan begitu. Semoga Anyelir yang hanya tinggal 1 pot ini
bisa hidup dan terus berkembang biak. Oh iya, apabila dari teman-teman ada yang
memiliki tips atau cara mengembangbiakkan Anyelir bisa share di komentar
ya, soalnya penulis juga sedang mencari info bagaimana cara mengembangbiakkan
Anyelir. Terimakasih
Tulungagung, 6 Januari
2021


Komentar
Posting Komentar