Penguatan Karakter Anak Melalui Sosialisasi Kaidah Sosial pada Lingkungan Keluarga

 Oleh: Inama Anusantari

Sumber Gambar: Robert Collins_Unsplash

            Penguatan karakter bangsa menjadi program yang diprioritaskan oleh Pemerintah sejak tahun 2016 yang lalu. Program yang diprioritaskan oleh pemerintah tersebut bertajuk PKK yang memiliki kepanjangan Penguatan Pendidikan Karakter. (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud) Bentuk dari penguatan karakter ini disematkan dalam nawacita yaitu pemerintah akan melakukan revolusi karakter bangsa. Lima nilai karakter utama yang harus dimiliki oleh anak bangsa yaitu nilai religius, nasionalisme, kemandirian, integritas dan kegotong-royongan. Lima karakter utama ini diharapkan menjadi acuan dan karakteristik anak bangsa. Sesuai arahan Presiden, revolusi karakter bangsa dilakukan melalui pendidikan di sekolah, mulai dari jenjang dasar hingga jenjang menengah keatas.

           Salah satu tempat pendidikan karakter anak pertama dan utama adalah keluarga. Sebab keluarga merupakan tempat anak tumbuh dan berkembang. Sehingga dalam penguatan karakter anak, keluarga memiliki porsi penting. Mengapa keluarga memiliki porsi penting dalam penguatan anak? Jawabannya tentu saja karena keluarga adalah tempat paling awal dan efektif untuk mengerjakan fungsi sebagai departemen pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan. Hal pertama yang perlu dilakukan keluarga untuk menjalankan fungsi sebagai departemen-departemen tersebut yaitu melalui penanaman kaidah-kaidah sosial pada anak. Penanam kaidah-kaidah sosial di keluarga bisa dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dengan cara sosialisasi.

Sistem sosial terkecil dalam masyarakat adalah keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak (bisa lebih dari 1). Pernyataan yang mendengungkan bahwa keluarga adalah tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak bukanlah isapan jempol biasa. Kalimat ini memiliki makna bahwa keluarga menjadi peletak dasar dalam pembentukan karakter anak.  Penulis setuju dengan pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonya, bahwa apa yang dilakukan oleh anak merupakan cerminan dari keluarganya. Sehingga pendidikan yang dilakukan oleh keluarga menjadi sangat penting, hal ini sangat perlu mendapatkan perhatian lebih bagi anggota dewasa yang ada di keluarga.

Pada dasarnya sosialisasi memiliki arti sebagai proses bagaimana mengenalkan sistem pada seseorang. (Sutaryo: 2004) Dalam konteks tulisan ini, seseorang merujuk pada anak sebagai calon tunas bangsa. Berhasil atau tidaknya sosialisasi ditentukan oleh lingkungan, pengalaman dan kepribadian anak. Apabila mengacu pada macam-macam sosialisasi, sosialisasi kaidah sosial di lingkungan keluarga termasuk dalam sosialisasi primer. Alasannya, sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga merupakan sosialisasi pertama yang didapatkan oleh anak di masa kecilnya. Sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga menjadi jalan atau membuka jalan bagi seseorang ketika akan memasuki dunia masyarakat nantinya. Berikut ini beberapa proses sosialisasi dalam rangka penguatan karakter anak, diantaranya:

Internalisasi nilai-nilai/kaidah sosial 

Proses sosialisasi yang pertama yaitu internalisasi nilai-nilai/kaidah sosial. Proses ini berupa penanaman nilai dan norma sosial ke dalam diri anak, yang berlangsung sejak anak lahir hingga meninggal. Tentu saja, peran sosialisasi ini berada penuh pada keluarga inti dan lingkungan keluarga anak tersebut. Nilai-nilai atau kaidah sosial yang ada di masyarakat ada 4, yaitu:

  1. Kaidah Agama

Kaidah agama merupakan kaidah yang bersumber dari Tuhan YME. Peraturan dari kaidah ini bersumber pada kitab-kitab ajaran agama, yang memiliki aturan mengikat dan bagi pengikutnya tidak mudah untuk melanggar. Sanksi apabila seseorang melanggar kaidah agama yaitu balasan atau dosa dari Tuhan. Contoh sosialisasi dari kaidah agama meliputi: menutup aurat baik bagi laki-laki dan perempuan, tidak menggunjingkan orang lain (ghibah), menjaga pandangan, tidak berzina, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi anak-anak dan sesama, menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, berdoa sebelum melakukan perbuatan (tidur, makan, bercermin, masuk-keluar kamar mandi, masuk-keluar masjid dsb.), menjawab salam saudara sesama muslimah, toleransi terhadap agama lain, memberikan bantuan atau sedekah kepada yang membutuhkan, dan sebagainya.

  1. Kaidah Kesusilaan

Kaidah kesusilaan timbul dari hati nurani manusia sendiri. Kaidah ini menjadi dasar untuk mengetahui serta menentukan mana tindakan yang baik dan mana yang buruk di masyarakat. Kaidah ini berasal dari dalam diri sendiri, sehingga apabila terjadi pelanggaran kaidah sosial, maka yang menjadi hakim dan menghukum adalah diri orang itu sendiri. Sanksinya yaitu berupa rasa bersalah, malu, gelisah dan tak enak. Kaidah kesusilaan yang biasa disosialisasikan dalam lingkungan keluarga dan mampu menguatkan karakter anak yaitu: berbuat jujur dalam setiap bertindak dan melangkah, tidak mencuri hak atau barang milik orang lain, tidak ingin memiliki suami/istri orang lain, menghormati sesama manusia, tidak berzina, baik zina mata, telinga maupun hati, jangan merusak taman atau hutan lindung, meminta maaf jika telah melakukan kesalahan, berbicara hal-hal yang baik, berpakaian dan berperilaku yang tidak mencerminkan pornografi dan pornoaksi, dan sebagainya.

3.      Kaidah Kesopanan

Kaidah kesopanan dibentuk oleh suatu lingkungan atau masyarakat. Kaidah kesopanan tidak berlaku secara universal. Sebab masing-masing lingkungan daerah memiliki batasan tersendiri terkait kaidah kesopanan. Hal ini seperti bunyi pepatah jawa desa mawa cara, yang memiliki arti bahwa setiap desa/daerah memiliki adat dan peraturan masing-masing. Sanksi apabila melanggar kaidah ini yaitu berupa cacian, makian, celaan hingga diasingkan oleh masyarakat.

Bentuk kaidah kesopanan yang biasa disosialisasikan pada lingkungan keluarga untuk penguatan karakter anak yaitu: Unggah-ungguh yaitu sopan santun dan menghormati kepada orang yang lebih tua. Dalam Bahasa jawa ada tingkatan Bahasa, yaitu Ngoko (biasanya digunakan pada teman sebaya atau orang yang lebih muda), Krama (tingkatan kedua yang berarti lebih halus), krama alus dan krama inggil (digunakan ketika sedang berbincang-bincang dengan orang yang lebih tua atau dihormati). Sopan santun dan menghormati orang tua juga bisa berupa tindakan (tindhak-tandhuk), misalnya merunduk.

Bentuk kaidah kesopanan selanjutnya adalah meminta izin atau mengucapkan salam jika akan masuk ke rumah orang lain, mengetuk pintu ketika akan memasuki kamar orang tua atau orang lain, meminta ijin lebih dahulu kepada orang tua jika pulang terlambat, meminta ijin dan bersalaman terlebih dahulu jika akan meninggalkan rumah, mempersilakan masuk dan duduk tamu yang berkunjung kerumah, tidak menghabiskan makanan atau jamuan ketika sedang bertamu (Hal ini terjadi di Tulungagung), menyapa orang lain atau tetangga jika berpapasan di jalan sekitar rumah, meminta izin kepada pemiliknya jika ingin meminjam atau menggunakan barang milik orang lain, mengenakan pakaian yang pantas jika menghadiri acara-acara formal dan sebagainya.

4.      Kaidah Hukum

Kaidah hukum secara sederhana bisa diartikan sebagai undang-undang. Karakter dari kaidah sosial ini yaitu dibuat secara legal oleh lembaga yang berwenang. Sanksi berupa hukuman yang nyata dan tegas sebab kaidah ini bersifat mengikat. Contoh kaidah hukum yang bisa disosialisasikan pada lingkungan keluarga dan mampu menguatkan karakter anak yaitu: undang-undang yang ada di negara kita ini.


Penanaman nilai-nilai/kaidah sosial paling cocok mulai dikenalkan pada anak usia 1-2 tahun. Karena pada usia ini anak balita sedang berada diusia emas. Penulis mengambil contoh pengenalan dan penanaman kaidah kesopanan untuk penguatan karakter anak di keluarga, yaitu unggah-ungguh menggunakan bahasa yang sopan. Pada tahap sosialisasi internalisasi kaidah sosial untuk menguatkan karakter anak, orang tua penulis mulai mengenalkan dan menanamkan bahasa ibu (bahasa daerah, penulis adalah orang Jawa, jadi bahasa ibu penulis adalah bahasa Jawa) kepada penulis dan adik penulis (pada usia dini). Di dalam bahasa ibu banyak mengandung tata krama, unggah-ungguh dan sopan santun yang nantinya akan mempengaruhi karakter anak di kemudian hari. Namun, sayang sekali, pada masa kekinian ini, bahasa ibu sering ditinggalkan oleh anak-anak muda.

Dalam kehidupan sehari-hari penulis kerap menjumpai banyak anak muda yang berbicara tidak sopan dengan orang yang lebih tua. Cara sosialisasi yang efektif untuk penguatan karakter anak yang dilakukan oleh keluarga adalah dengan memberikan contoh nyata kepada anak-anaknya. Intinya orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua harus menjadi suri tauladan bagi anggota keluarga yang lebih muda. Hal ini seperti semboyan Ki Hajar Dewantara Ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karsa, lan tut wuri handayani. Penulis memiliki adik yang masih kecil, dan benar saja, apa saja yang penulis lakukan selalu ditiru olehnya. Bahkan cara makan penulis juga ditiru. Dalam hal ini penulis menjadi sangat berhati-hati dalam bertindak, sebab benar saja bahwa anak kecil adalah peniru yang handal.

         Enkulturasi 

        Proses enkulturasi merupakan proses pengembangan dari nilai-nilai/kaidah-kaidah sosial yang sudah tertanam dalam diri anak. Kemudian diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari anak. Proses sosialisasi kedua ini, lagi-lagi keluarga memegang peran penting. Sebab, keluarga yang sehari-hari dekat dengan kehidupan anak, sehingga keluarga bisa dengan mudah mendukung, memenuhi sarana dan prasarana supaya anak mengembangkan dan mengimplementasikan nilai atau kaidah sosial yang sebelumnya pernah didapatkan. Pada tahap ini anak tidak hanya terpaku pada hal-hal dasar atau sederhana yang sudah ditanamkan oleh keluarganya. Namun, anak sudah mulai mengembangkannya dan mengimplementasikannya pada kehidupan sehari-harinya.

Pendewasaan Diri

Proses pendewasaan merupakan proses berlangsungnya internalisasi dan enkulturasi secara terus-menerus sampai terbentuklah suatu karakter anak. Bisa juga secara pribadi, pada proses ketiga ini merupakan proses pematangan karakter anak, hingga karakter anak benar-benar terbentuk. Anak-anak adalah calon tunas bangsa, sehingga bagaimana karakter suatu bangsa dimulai dari bagaimana karakter anak muda nya. Karakter suatu bangsa lahir dari bangsa itu sendiri. Bangsa Indonesia memiliki karakter sebagai bangsa yang memiliki masyarakat yang ramah, sopan, beragama dan berbudi. Karakter yang seperti ini harus dipertahankan dan jangan sampai hilang, hilangnya karakter suatu bangsa menjadi tanda hilangnya identitas suatu bangsa. Pasti sebagian besar masyarakat Indonesia tidak ingin hal ini terjadi bukan! 

Megawangi (2003) menyebutkan 9 pilar karakter seseorang, yaitu: (1) Mencintai Tuhan dan seluruh ciptaan Nya; (2) memiliki sikap tanggung jawab, mandiri, dan disiplin; (3) bersifat arif dan jujur/amanah; (4) santun dan hormat; (5) suka menolong, gotong-royong dan dermawan; (6) kreatif, percaya diri dan percaya diri; (7) memiliki sifat adil dan kepemimpinan; (8) rendah hati dan baik, dan (9) cinta damai, toleran dan kesatuan. Sembilan pilar karakter anak di atas bisa terbentuk dengan baik apabila didukung oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan yang baik. Dalam faktor bawaan, pada dasarnya setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini memiliki bawaan sifat baik. Sehingga dalam hal ini faktor lingkungan menjadi penentu bagaimana karakter seseorang.

Setiap manusia memiliki potensi memiliki karakter yang baik ketika sebelum dilahirkan. Namun, setelah dilahirkan, manusia harus tetap diisi dengan nilai-nilai atau kaidah-kaidah sosial yang baik dengan pola berkelanjutan (terus-menerus). Cara mengisi nilai-nilai atau kaidah-kaidah sosial ini tentu saja melalui sosialisasi dan pendidikan sejak dini dalam lingkungan keluarga. Keberhasilan sosialisasi yang dilakukan oleh keluarga sangat tergandung dengan pola asuh yang selama ini diterapkan oleh orang tuanya. Pola asuh secara sederhana didefinisikan sebagai pola interaksi orang tua dan anak yang meliputi pemenuhan kebutuhan, baik kebutuhan fisik, dan psikologis. Pola asuh dibagi menjadi, yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan permissive. Penulis berpendapat bahwa dari ketiga jenis pola asuh ini, yang dianggap paling efektif menguatkan karakter anak melalui sosialisasi kaidah sosial yaitu pola asuh demokratis.

Pemegang kunci utama dalam berhasil atau tidaknya penguatan karakter anak melalui sosialisasi kaidah sosial di lingkungan keluarga yaitu pola asuh orang tua. Kekeliruan yang sering dipraktekkan orang tua dalam mengasuh anaknya yaitu: (1) orang tua jarang meluapkan dan menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang kepada anak, baik melalui cara verbal maupun sikap; (2) tidak meluangkan waktu untuk anak; (3) orang tua bersikap kasar secara verbal kepada anak; (4) bersikap kasar secara fisik; (5) memaksa anak memiliki keterampilan kognitif yang baik ketika anak masih dini; (6) dan tidak menanamkan gambaran good character pada anak.

Apabila Ayah dan Bunda menginginkan anak yang tumbuh sehat, kuat dan berkarakter, ubahlah pola asuh Ayah dan Bunda selama ini (apabila termasuk orang yang keliru melakukan pola asuh pada anak). Namun, apabila ayah dan bunda sudah termasuk orang tua yang menjalankan pola asuh yang benar, pertahankan ya! Demikian tulisan kali ini, semoga bermanfaat bagi pembaca semuanya. Terimakasih!


Sumber:

Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Tim Komunikasi Pemerintah Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Sutaryo. 2004. Dasar-dasar Sosialisasi. (Jakarta: Rajawali Press)
Megawangi, Ratna. 2003. Pendidikan Karakter untuk Membangun Masyarakat Madani. (IPPK Indonesia Heritage Foundation)


Komentar

  1. Balasan
    1. waaah, terimakasih sudah berkunjung calon Ibu Dharma Wanita :-)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Matursuwun Ibu... Semoga semangat nulisnya bisa seperti panjenengan:-)

      Hapus
  3. Tulisan bagus mbk inama. Saya setuju pendidikan karakter anak dimulai dari keluarga. Karena lingkungan terdekat anak adalah keluarga. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Pola asuh yang baik adalah dengan cinta bukan paksaan atau hukuman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbaak.. waah jadi malu, aku belum punya anak berani-beraninya buat artikel kayak gini. Hehehe... Terimakasih udah mampir yaa mbak..

      Hapus
  4. Menyimak parenting class, tentang pendidikan karakter yang dimulai dari penanaman nilai pada lingkungan keluarga,. Iso dadi tesis iki

    BalasHapus
  5. Waah iya ya, baru sadar , hehehe
    Terimakasih lho pak udah mampir

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer