3 Faktor Pemberian ASI Eksklusif Belum Berjalan Optimal
ASI- Berbeda dengan hari Selasa
kemarin, pada hari Rabu ini mentari lebih ramah dan bersahabat. Hal ini
ternyata menular pada mood saya, dengan semangat pagi saya mengayuh
sepeda onthel menuju balaidesa. Apakah ada yang berpikir bahwa saya
seorang perangkat desa? Bukan kok, saya hanya rakyat jelata. Hanya saja saya
sedang membutuhkan bantuan dari salah satu perangkat desa, jadi sejak semalan
saya sudah membuat janji dengan beliau. Sesampainya di balaidesa, waah ramai
banget. Banyak anak balita berserta ibunya. Oh Posyandu! Tangisan anak-anak
balita mewarnai keriuhan suasana pagi ini. Apalagi ada beberapa penjual yang
juga berada di balai desa. Ada penjual balon karakter (itu lho balon yang bisa
terbang tapi di tali), ada penjual pentol, bahkan ada penjual gula-gula arum
manis (itu lho yang rasanya manis, warna pink dan kalau ditiup ikutan mengkeret.
Entahlah apa namnya).
Terdakang saya suka galau, kalau melihat pemandangan seperti ini,
ketika balita nangis, minta dibelikan balon, tetapi ibunya tidak mau membelikan
karena memang sedang menghemat uang. Mau nyalahin penjual balon juga tidak
bisa, mereka kan juga sedang mencari rezeki. Hmm begitu ya hidup. Ketika
melihat kegiatan posyandu seperti ini saya menjadi teringat dua tahun yang lalu
ketika saya KKN. Saya pernah berpartisipasi membantu ibu-ibu kader posyandu di
desa ketika saya KKN dulu.
Ketika KKN, saya masuk dalam divisi sosial, tetapi lebih suka
nogkrong di polindes bersama bu Bidan. Sosok Bidan desa (sebut saja desa X) di
tempat saya KKN dulu masih melekat dalam benak saya. Beliau adalah seorang
perempuan supel, ramah, mandiri, kuat, dan tentu saja gaul (mengerti anak
muda). Bahkan sampai sekarang pun saya masih ingat kata-kata beliau tentang
permasalahan ASI eksklusif di X. Pemberian ASI eksklusif si X ini tergolong
masih rendah, padahal banyak sekali manfaat dari pemberian ASI eksklusif pada
bayi 0-6 bulan.
Meskipun angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia mengalami
peningkatan pada tahun 2016-2017 yang lalu, yaitu dari 29,5% menjadi 35,7%. Namun
mengingat pentingnya ASI eksklusif bagi kehidupan anak, tentu saja angka ini
masih kecil (meskipun sudah mengalami peningkatan). Pemerintah menargetkan
setidaknya angka pemberian ASI eksklusif bisa mencapai 50% lebih.
Hasil nongkrong di polindes dan hasil bincang santai bersama dengan bu Bidan, saya mendapatkan 3 faktor kenapa pemberian ASI eksklusif di desa X masih rendah, yaitu:
Pola Pikir Bayi Nangis Karena Lapar
Pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa bayi menangis dianggap lapar. Sehingga pemberian ASI saja tidak cukup membuat bayi kenyang. Hal ini kemudian membuat orang tua menambahkan susu formula pada bayi (0-6) bulan.
Pola Pikir Bayi Dengan Susu Formula Lebih Mahal dan Elegan
Pola pikir masyarakat yang menganggap anak yang diberikan susu formula terkesan mahal dan elegan. Sehingga pemberian ASI eksklusif saja pada bayi usia 0-6 bulan tidak terealisasikan dengan baik di desa X.
Faktor Ekonomi
Keadaan ekonomi orang tua, yaitu banyak ibu-ibu muda yang menjadi TKW dan meninggalkan anaknya yang masih membutuhkan ASI eksklusif di rumah bersama neneknya.
Saya akui, 3 faktor yang saya temukan ini belum diuji secara
ilmiah. Apabila diberikan kesempatan saya ingin melakukan penelitian yang
sebenarnya tentang pemberian ASI eksklusif. Tapi ya di daerah Tulungagung saja,
kalau harus kembali ke desa tempat saya KKN ya pikir-pikir dulu. Hehehe
Pemberian ASI eksklusif juga menjadi kendala bagi ibu-ibu yang juga
berstatus sebagai wanita karir. Apalagi dengan disahkannya Undang-undang
Omnibus Law Cipta Kerja beberapa hari yang lalu. Dimana di salah satu pasalnya
yang membahas pekerja perempuan sempat mendapatkan perhatian. Demikian tulisan
saya yang seadanya ini. Semoga bermanfaat ya!

Pemberian ASI pada bayi ditegaskan secara eksplisit dalam Al Qur'an. Penyempurnaan pemberian ASI selama 2 tahun (haulain kaamilain) seharusnya menjadi tuntunan. Catatan yang keren Inπ€©
BalasHapusTerimakasih Bu,, sampun mampir..:-)
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapussepertinya masih ada faktor2 lain yang belum tercantum
BalasHapusBetul Uki, itu masih pra penelitian, nanti kalau sudah penelitian sebenarnya bisa dilengkapi. hehehe,, terimakasih ya sudah mampir :-)
Hapus