Tidak Ada Gunanya Melarikan Diri


Tak Bisa Lari Dari Takdir- Sebelum memulai tulisan saya kali ini, saya akan berterima kasih kepada tetangga sekaligus adik yang sekarang jadi teman bertukar pikiran. Terimakasih karena telah membantu memaksa saya untuk menulis lagi. Kesibukan baru yang saya geluti membuat saya stay terus di depan laptop. Tentu saja hal ini membuat saya harus pinter-pinter ngatur waktu buat ngerasain Me time, atau sekedar mengeja kembali buku-buku atau novel-novel baru yang sudah nangkring di rak dari tahun lalu.

Tujuan saya membuat blog sebenarnya adalah sebagai tempat untuk sekedar mencurahkan isi hati. Yah, wajar saja saat itu baru tahun 2012, tahun dimana otak saya belum bisa mencerna kedepan dengan baik. Namun seiring berjalannya waktu, 8 tahun mampu merubah pola pikir saya, saya ingin menulis hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Namun lagi-lagi tidak serta merta keinginan saya berjalan mulus. Sebenarnya halangan terbesar saya menulis adalah diri saya sendiri, begitu banyak alibi yang saya berikan, mulai dari tidak ada waktu, tidak ada ide, capek dan bahkan malas.

Apabila saya bandingkan dengan tulisan yang harus saya buat untuk kepentingan kerja, kepentingan tugas kuliah pada akhirnya juga tetap berhasil menghasilkan sebuah tulisan. Berdasarkan hal ini saya jadi yakin bahwa untuk menulis memang harus dipaksa. Oleh karena itu, setiap hari Rabu saya akan memaksa diri saya untuk menulis di blog yang sudah lama terbengkalai ini.

Dalam tulisan ini saya akan sedikit menceritakan perjalanan hidup saya yang lagi-lagi memang dipaksa oleh takdir. Ketika saya duduk di bangku Madrasah Aliyah, saya pernah bergabung dalam organisasi kepemudaan yaitu Pramuka. Ketika bergabung menjadi anggota pramuka di Gugus Depan, saya dipercaya menjadi pradana putri (istilah ketua pramuka putri di tingkat Gugus Depan/sekolah). Ketika sudah lulus Madrasah Aliyah (MAN), saya memutuskan untuk mencari jati diri dan meninggalkan segala hal tentang Pramuka. Setelah berjalan bertahun-tahun, ternyata takdir membawa saya kembali kepada hal tentang Pramuka. Pembina Pramuka saya ketika MAN memanggil saya untuk membantu membina pramuka di sekolah. Benar, tahun 2014 adalah tahun dimana Pramuka adalah ekstrakurikuler wajib dan hal ini membuat sekolah membutuhkan banyak Pembina.

Ringkas cerita, tahun 2014 adalah tahun dimana saya comeback di dunia Pramuka. Canggung pasti, saya yang sudah lama tidak bergelut dengan hal-hal tentang pramuka harus kembali terjun langsung membina anak-anak yang belum mengenal bahkan tidak menyukai segala hal tentang pramuka. Di sini saya tidak akan bercerita tentang kesulitan saya beradaptasi, karena bagi saya itu bukan kesulitan, tapi lebih kepada tantangan.

Hal baru yang mengantarkan saya pada fase kehidupan sekarang semua berawal dari pramuka. Boleh saja jika saya dianggap lebay, namun memang semua berawal dari sini. Teman-teman saya sesama Pembina pramuka sebagian besar adalah orang-orang akademisi yaitu guru. Dari mereka saya mendapatkan motivasi yang luar biasa untuk kembali melanjutkan pendidikan. Tepatnya pada tahun 2015 di bulan Juli, melalui media sosialnya teman saya sesama pembina memberikan informasi mengenai kuliah dengan UKT 0 di IAIN Tulungagung. Saat itu jurusan yang ditawarkan adalah MAZAWA atau Manajemen Zakat dan Wakaf. Namun saya masih butuh waktu untuk berpikir, mengingat saya tidak ingin membebani kedua orang tua jika memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Waktu terus berlalu dan akhirnya waktu pendaftaran pun telah berlalu, dan hilanglah kesempatan saya untuk melanjutkan pendidikan. Saat itu hal yang saya katakan kepada teman saya adalah “Sampun telat kak, pun kersane, kulo kuliah tahun ngajeng mawon”.

Mungkin bagi sebagian orang saya memang lamban dalam berpikir, memang saya tipe-tipe orang yang memikirkan segala sesuatu terlalu dalam sebelum yakin untuk benar-benar melangkah. Biarlah orang berkata apa, hal ini membuat saya bertahan menjalani hidup yang keras (hehehe). Sampai akhirnya pada bulan Agustus di tahun yang sama, lagi-lagi melalui media sosial facebook saya melihat postingan dari salah satu dosen IAIN Tulungagung tentang kuliah jurusan baru, yaitu jurusan Hukum Tata Negara dengan UKT 0. Tentu saja, UKT 0 ini yang membuat saya tertarik, karena memang jujur saat itu saya tidak memiliki daya lebih dalam hal finansial.

Beberapa hari akhirnya saya selesai mengurus segala macam persyaratan untuk mendaftar kuliah, mulai dari surat keterangan bebas narkoba, hingga SKCK. Setelah semua persyaratan cukup, saya datang ke IAIN lebih tepatnya Fakultas Syariah dan Hukum untuk mendaftarkan diri. Singkat cerita saya diterima. Barulah saya menginformasikan hal ini kepada orang tua saya di rumah, bahwa saya mendaftarkan diri untuk kuliah dan ada undangan wali mahasiswa dari kampus. (Untuk hal ini kalian jangan mencontoh saya ya! Apa pun itu harus izin dulu kepada kedua orang tua, hehehe).

Semester demi semester saya jalani, tidak ada niatan kedepannya nanti saya mau jadi apa, yang saya tahu saat itu adalah saya ingin melanjutkan pendidikan ingin belajar lagi. Hari-hari kuliah saya jalani dengan sungguh-sungguh, saya jarang nongkrong bersama teman-teman, dan hal ini yang terkadang membuat saya ingin mengulang kembali masa-masa kuliah, menghabiskan waktu bersama teman-teman. Hal ini disebabkan memang ada hari-hari tertentu saya harus ke MAN untuk melatih pramuka. Ada momen-momen kuliah yang tidak akan pernah saya lupakan, yaitu ketika jadwal saya melatih di MAN bentrok dengan jadwal kuliah, disini saya harus wira-wiri dari kampus ke MAN dan kembali lagi ke kampus. Jadi pada hari-hari tertentu saya selalu telat masuk kelas, bahkan ketika masuk kelas dan baru duduk ternyata kelas sudah selesai.

Sampai sekarang pun saya masih bergelut dengan dunia Pramuka, namun lagi-lagi saya menunjukkan sisi aneh, yaitu Saya tidak bergabung dengan pramuka Kwartir Ranting atau Kwarting Cabang. Iya ini, saya menyebutnya dengan Pramuka Independen, aneh kan saya! Terlepas dari itu semua, saya tidak pernah setengah-setengah saat latihan bersama adik-adik. Banyak hal baru yang harus saya pelajari bersama adik-adik apalagi di tengah pandemi saat ini. Pramuka yang identik dengan alam harus beradaptasi dengan segala pembatasan sosial yang ada.

Oke, tulisan ini sudah terlalu panjang. Intinya adalah apa yang sudah menjadi takdirmu tidak akan pernah terlewatkan dari fase hidupmu! Terimakasih sudah mau membaca tulisan saya ini! Salam Rahayu!

 

 

Tulungagung, 1 Juli 2020

 

 


Komentar

  1. Sudah aku komen sist, good luck ❤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matursuwun gais🀩 , semoga sukses juga buat kamu πŸ€—

      Hapus
  2. Luar biasa. Sukses teruss cantik πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ€—πŸ€— Semangt bumil cantikku, semoga lancar lahirannya...

      Hapus
  3. Mangatssss gaisss πŸ˜… sukses selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampean juga semangat,, dan sukses selalu πŸ€—

      Hapus
  4. Btw, dari pertama kenal aku tuh suka aja liat mbak inama. Pikiran dan hatiku berkata "Wah nih orang kayaknya se tipe sama aku" πŸ˜‚. Itu adalah murni bukan peres.

    Semangat mbak inama. Saya tunggu tulisan selanjutnya 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sama-sama ceplas-ceplos πŸ˜…, Terimakasih yaaπŸ€—

      Hapus
  5. Balasan
    1. Ditunggu juga tulisannya tentang menjadi lulusan terbaik sehingga dapat lanjut S2 di kampus yang sama. Hehihehi

      Hapus
    2. InsyaAllah, meskipun agak susah nyeritain ke arah sana 😁

      Hapus
  6. Keren kak Inama. Mengalir dan tanpa beban. Ditunggu tulisan selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Bu☺️, masih belajar Bu πŸ™

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer