Dapat Nilai C? Temukan Definisi Suksesmu Sendiri
Nilai C – Selamat hari Rabu, entah kenapa saya suka sekali dengan hari
Rabu. Pada tulisan kali ini saya akan sedikit berbagi tentang pengalaman saya
mendapatkan nilai C. Nilai C ini saya
dapatkan dari salah satu mata kuliah pada semester 5 (kalau tidak salah, saya
sedikit lupa). Dosen pengampu mata kuliah ini adalah seorang dosen “DLB” atau
Dosen Luar Biasa. Sebenarnya perjalanan mata kuliah ini biasa saja, tanpa ada
halangan apapun. Beliau selalu tepat waktu, penyampaian ketika mengajar pun
juga enak menurut saya.
Menurut saya pribadi beliau adalah tipe-tipe dosen
tekstualis. Ketika ujian tiba, jawaban dari soal ujian yang beliau inginkan
adalah jawaban yang terstruktur dan sesuai dengan teks catatan yang telah
beliau berikan. Nah, disinilah pangkal dari permasalahannya, Saya tipe orang
yang suka berimprovisasi dan tidak terpaku dengan teks. Ya sudah bisa ditebak
kan hasilnya. Alhasil, saya dengan sebagian besar teman-teman di kelas
mendapatkan nilai C. Bahkan teman saya yang “bapak-bapak” sekaligus main
vocal di kelas pun tak luput dari nilai rantai karbon ini.
Hal yang pertama kali yang saya lakukan ketika tahu nilai
mata kuliah saya adalah tertawa terbahak-bahak. Saya bisa mengambil
kesimpulan bahwa yang menjadi poin penilaian dalam mata kuliah ini adalah
tugas, UTS dan UAS. Kehadiran dan keaktifan tidak menjadi poin dalam penilaian.
Terlepas dari semuanya, saya bersyukur mendapatkan nilai C dalam mata kuliah
ini. Kenapa? Karena nilai C inilah yang mengantarkan saya pada perjalanan dan
pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Bahkan suatu saat nanti bisa
saya ceritakan kepada anak-cucu. Apakah Anda penasaran dengan perjalanan dan
pengalaman saya dapatkan berkat nilai C ini? Meskipun Anda tidak penasaran saya
akan tetap melanjutkan cerita ini, soalnya biar mencapai target tulisan ya
minimal 500 kata lah. hehehe
Setelah semester 6 berakhir saya bersiap-siap untuk berangkat
KKN, di tengah kegiatan KKN saya harus izin ke kampus untuk menemui dosen
pembimbing akademik untuk melakukan konsultasi pengisian IRS. Nah, disinilah
awal perjalanan dan perjuangan saya dimulai. Dimana yang seharusnya kondisi
semester akhir hanya menyisakan mata kuliah KKN, PPL dan Magang, saya harus
masuk kelas lagi bersama adik tingkat. Dosen pembimbing akademik ingin saya
mengulang mata kuliah dengan nilai C tersebut. Dengan kekuatan Bissmillah,
saya masukkan mata kuliah tersebut ke dalam KRS.
Awal mata kuliah semester 7 dimulai ketika kegiatan KKN saya
belum selesai. Biarlah sesekali saya bolos, jadi mahasiswa rajin masuk itu
monoton (bercanda, hehehe). Akhirnya saya baru bisa masuk ke kelas pada jam
berikutnya, namun lagi-lagi bertabrakan dengan jadwal saya PPL. Saya
mendapatkan tempat PPL di Kabupaten Trenggalek, entah kenapa saya ditempatkan
di Trenggalek. Selama di Trenggalek saya tinggal di rumah teman, Yunike
(terimakasih ya, sudah menampung saya selama 1 bulan. Duh, saya jadi kangen
masakan ibu kamu, hehehe). Tantangan baru semester 7 ini sepertinya tidak
berhenti sampai disitu. Jadwal mata kuliah yang harus saya ulang awalnya adalah
siang, namun adik tingkat yang kelasnya saya ikuti minta pindah di jam
malam. Saya bisa berbuat apa? Toh saya
hanya mahasiswa “numpang” di kelas mereka, mau tidak mau ya saya harus menerima
keputusan mereka.
Awalnya saya pingin nangis, pulang PPL jam 4 sore langsung ke
Tulungagung pulang ke rumah, setelah maghrib langsung ke kampus, kuliah sampai
malam. Barulah keesokan paginya saya berangkat ke Trenggalek, sekitar jam 6
saya berangkat dari rumah, karena jam 7 harus sampai tempat PPL untuk absen.
Saya merasa sangat lelah baik fisik maupun otak kala itu. Namun, lagi-lagi saya
ingat kalau pilihan untuk kuliah adalah pilihanku, jadi saya harus bertanggung
jawab atas pilihan yang saya ambil. Saya hanya tinggal berusaha dan berjuang
saja kan! Oh iya, dosen pengampu mata kuliah kali ini berbeda dengan dosen mata
kuliah semester lalu. Namun, dosen kali ini lebih disiplin tentang kehadiran,
dan keaktifan. Tetapi untuk penyampaian materi perkuliahan saya lebih suka
dengan dosen sebelumnya. Pernah suatu ketika saya meminta izin seandainya saya
datang terlambat, karena saya terkadang berangkat langsung dari Trenggalek. Akhirnya
saya diizinkan namun hanya maksimal 3 kali, “Alhamdulillah” batin saya saat
itu. Berawal dari sinilah saya mendapatkan julukan “mahasiswa PPL” dari beliau.
Perjalanan Trenggalek-Tulungagung sudah mulai membuat saya
terbiasa. Namun tepat seminggu sebelum PPL berakhir, ketika perjalanan dari
rumah menuju tempat PPL saya mengalami kecelakaan. Kecelakaan tersebut terjadi
pada hari Senin pagi sekitar pukul 06.30 di Jalan Raya Trenggalek. Saya tidak
akan menceritakan detail kecelakaan yang saya alami, yang jelas saya bersyukur
karena saya masih mendapatkan perlindungan dari Allah. Pada semester 7 saya
memiliki kebiasaan murojaah hafalan surat-surat pendek untuk persiapan ujian
Komprehensif. Saya berpikir bahwa ini yang menyelamatkan saya dari luka fatal
akibat kecelakaan yang saya alami. Kondisi motor saya yang rusak cukup parah,
kondisi saya pun saat itu cukup memprihatinkan. Apalagi setelah mendengar
cerita bahwa di TKP tempat saya kecelakaan biasanya korban nya selalu
meninggal. Innalillahi.
Di tengah kebingungan, Alhamdulillah teman saya satu
kelas tiba-tiba datang, sebut saja namanya Adul. Disini saya baru sadar bahwa Allah sayang sekali
dengan hamba Nya. Akhirnya beberapa teman satu kelas saya datang dan menolong
saya. Inilah hal yang membuat saya sangat menyayangi teman-teman HTN-A’15.
Singkat cerita, PPL selesai dan saya fokus kuliah mengulang dan sampailah pada
akhir semester dan nilai keluar. Alhamdulillah saya mendapatkan nilai B.
Ada banyak hal yang saya dapatkan selama perjalanan mengulang
mata kuliah. Saya menjadi lebih menghargai proses perjuangan sebelum seseorang
berada pada tempat yang diinginkan banyak orang. Apalah arti Nilai A, B, atau
C, saya secara pribadi sudah tidak mau ambil pusing, toh memberikan nilai itu
hak dosen. Kalau menurut saya, selama ini saya terlalu dimanjakan dengan nilai
A bahkan A+, sampai-sampai nilai B atau C itu terlihat sangat tidak wajar.
Padahal kalau mendengar perjuangan dosen-dosen ketika kuliah dulu, sekedar
mendapatkan nilai B itu susahnya minta ampun. Tuh, Buat mahasiswa-mahasiswi
yang mendapatkan nilai B atau C dari dosennya, jangan langsun mencak-mencak ya!
Coba intropeksi, apakah benar kamu layak mendapatkan nilai A? Hal lain yang saya dapatkan adalah, saya sukses mendapatkan teman sekaligus keluarga.
Terimakasih untuk bapak Dosen yang memberikan saya nilai C,
tanpa Bapak, saya tidak akan pernah mengalami perjalan yang luar biasa ini. J Tulisan ini asli dari pengalaman pribadi
saya, jadi jika ada yang kurang berkenan mohon dimaklumi.
Tulungagung, 08 Juli 2020
By : Mantan “Mahasiswa PPL”

Sangat menginspirasi sekali πππππ
BalasHapusTerimakasih☺️
HapusSemangat Semoga Dapat Jodoh
BalasHapusAamiiin π
HapusPak PTUN~~~
BalasHapusWeeew kunangan π€£
HapusPeranku kurang dong nek cerita π msok gitu doang
BalasHapusLain kali tak buatin bahas khusus juragan Gaplek dari Trenggalek π
HapusSaya jga pernah mendapatkan nilai C. Alhamdulillah dpet bonus +, jdinya C+.
BalasHapusAlhamdulillah ya kak ada tambahannya, enggak apa2 C, asalkan ada "Plus" nya π
HapusSeandainya semua mahasiswa sepertimu Inama hehe
BalasHapusπ π
Hapusjadi inget pas lagi kkn. pengalaman yang tidak terlupakan
BalasHapus