Review Novel Berlabuh di Lindǿya
Sebenarnya
sejak akhir bulan Mei yang lalu saya ingin membuat review novel sederhana. Sebagai
bentuk semangat baru dan juga bentuk apresiasi saya kepada salah seorang teman
yang mengirimkan novel ini kepada saya. Saya mulai mengenal beliau di awal
Tahun 2020, berawal dari beliau yang mengirimkan DM ke Instagram saya yang
berisi “Selamat studi, InamaJ”.
Jujur saya buka tipe yang mudah membahas DM orang asing, namun entah karena apa
saya mulai membalasnya.
Percakapan
kami tidak jauh dari buku dan dan menulis, jujur saja belum tahu apakah beliau
seorang laki-laki atau perempuan. Beliau hanya menyebutkan bahwa umurnya
mungkin dua atau tiga kali lipat umur saya. Beliau bercerita bahwa karya beliau
pertama kali dimuat tahun 2001 atau 2002 di majalah femina. Kemudian komunikasi
berlanjut, dari beliau saya mendapatkan banyak motivasi salah satu kalimat
beliau yang akan selalu saya ingat adalah “Menulis itu jam latihan dan kuat
baca. Kayak belajar naik sepeda, Non”. Pada akhir Bulan April lalu saya
mendapatkan kiriman novel dari beliau yang sekarang saya panggil Bunda. Sebagai
bentuk apresiasi saya mencoba untuk membuat review novel ini. Review dari novel
ini sebenarnya sudah pernah dibuat oleh beliau di blog beliau yaitu: https://ziarahakalbudi.wordpress.com/2019/10/07/cerita-sam-dari-lindoya/.
Silahkan jika teman-teman berkenan bisa berkunjung ke blog beliau.
Nah, tanpa bermaksud menyamai atau apapun itu, berikut ini saya membuat review novel serupa namun dengan versi saya yang masih belajar. Yuk, disimak ya!
Identitas Novel
Judul : Berlabuh di Lindoya
Penulis : K. Fischer
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Genre/Kategori : Novel
ISBN : 978-602-03-1866-0
Tahun Terbit & Cetakan : 2015/1
Harga : -
Cover
Rating Review
Nilai rating yang saya berikan
untuk novel ini dari nilai 1-5 adalah 4 (٭٭٭٭). Dari segi gaya bahasa penulisan saya
merasakan enak sekali untuk dibaca. Mengalir begitu saja sampai sepertinya saya
tidak rela untuk meninggalkan novel ini. Namun, karena saya membaca novel ini
bersamaan dengan bulan Ramadhan jadi rela tidak rela saya harus membagi waktu
sebaik mungkin.
Selain itu, tidak ada satu pun
salah ketik atau typo yang saya temukan sepanjang membaca tulisan novel
ini. Pesan moral dari novel ini pun juga cukup mengena untuk saya. “Sejauh
apapun kamu berlari dari masalahmu, suatu saat pasti masalahmu akan tetap
menemukanmu! Jangan lari dari masalah! Jadilah kuat dan hadapi!.”
Klimaks novel ini disuguhkan
dengan cukup realistis, yang mana digambarkan ketika 32 anggota DPR dan pejabat
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral datang ke Norwegia untuk studi
banding. Namun bukannya studi banding tapi malah seperti acara sesi foto-foto.
Alibinya adalah ingin memotret mesin, meskipun hasil fotonya hanya menampilkan
secuil mesin pada latar belakang foto. Selain itu, studi banding di luar negeri
diakhiri dengan perjamuan dimakan siang, disini lagi-lagi salah satu anggota
DPR dengan sengaja memotret Sam dan mengunggahnya di media sosial Facebook. Dan
dari sinilah mulai terkuak masa lalu Sam kenapa sangat menghindari bertemu
dengan orang dari negara asalnya. Dan inilah bentuk sarkasme yang saya secara
pribadi sangat menyukainya.
Blurb
“Tidak ada yang tahu luka batin
yang disimpan Sam rapat-rapat. Hingga gadis itu memutuskan melarikan diri dari
Indonesia dan memulai hidup baru dengan bekerja di perusahaan pengeboran minyak
di ujung dunia, di Norwegia. Ketika harus pindah ke kantor pusat di Olso, Sam
menolak tinggal di apartemen dan menyewa rumah tua di Pulau Lindoya”.
“Di Lindoya Sam bertemu dengan
Rasmus Krudsvigsson, tetangga barunya. Meskipun diawali rasa takut dan curiga,
perlahan ketulusan pria tampan bermata biru itu dapat mencairkan kebekuan hati
Sam. Namun, ketika Sam merasa sudah siap membuka hati sepenuhnya untuk Rasmus,
salah satu anggota dewan yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Olso menarik
Sam kembali ke pusaran intrik masa lalu....”
The Reason I Read
Seperti yang sudah saya sampaikan
di atas, bahwa alasan saya membaca novel ini adalah karena novel ini adalah
bentuk hadiah spesial dari sahabat pena yang saya sebut dengan “Bunda”. Seorang
yang awalnya sangat misterius, yang pesan-pesannya tidak membuat saya lari atau
pun ilfeel. Maklum, saya pasti akan langsung lari jika mendapatkan pesan yan
berbau modus, namun beliau bukan modus melainkan motivasi-motivasi ke anaknya.
Ketika novel ini mendarat dengan
selamat di rumah, tanpa basa basi saya langsung membukanya, pada halaman awal
setelah informasi buku terdapat halaman persembahan yang berbunyi:
“Novel ini saya dedikasikan
kepada semua perempuan yang menolak menyerah dalam menghadapi masalah
kehidupan”
Memang dasar saya suka dengan kisah
perempuan-perempuan kuat, kalimat ini menjadikan saya lebih tertarik untuk
menyelami halaman per halaman dari novel ini. Meskipun saat itu posisi saya
sedang antri di Kantor Kecamatan, namun halaman pertama novel ini mampu
mengalihkan keadaan ramai di sekitar. Pada halaman awal novel ini menyuguhkan
seorang tokoh utama yang membenci keramaian dan lebih menyukai menyendiri.
Pada Bab pertama “Velkommen
Til Lindoya” awal-awal saya dibuat menebak-nebak siapah sosok “SAM” ini,
apakah dia seorang laki-laki atau seorang perempuan. Kerjaan tokoh utama di
salah satu perusahaan pengeboran minyak serta hasil pencapaiannya semakin
membuat saya bertanya-tanya seperti apakah sosok “SAM” ini. Barulah pada
halaman 10 menyebutkan “Gadis itu tersenyum tipis. Ia teringat beta Inga
terdengar heran di telepon...” Oh berarti Sam itu perempuan. Keren banget ya,
perempuan kerja di pengeboran minyak dengan karir cemerlang di salah satu
negara di Kutub Utara.
Dari halaman ke halaman saya
dibuat lebih mengenal sosok Sam, dimana selain anti sosial juga paranoid
dan sering mencurigai orang lain terlebih laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan
sikap antisipasi yang Sam tunjukan saat menemui tetangga barunya Rasmus, yang
seorang pria tampan bermata biru laut semburat hijau. Dari bab awal saya dibuat
menebak-nebak pasti ada masa lalu kelam yang membuat Sam paranoid terhadap
orang lain. Dan pastilah pria tampan bermata hijau ini adalah tokoh utama
laki-laki dalam novel ini.
Saya membaca dari halaman per
halaman sambil penasaran dengan masa lalu Sam, serta menunggu kapan munculnya
tokoh antagonis dalam novel ini. Sementara itu hubungan antara Sam dengan
rasmus masih digambarkan monoton dengan banyak kecurigaan yang Sam layangkan
kepada Rasmus. Pada Halaman 50-71, masa lalu Sam mulai terkuak, dengan menggunakan
alur mundur. Pada bab ini Sam digambarkan sebagai seorang mahasiswi jurusan
teknik yang cerdas dan tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau romansa. Pada
halaman ini lah akhirnya sosok yang dari tadi saya tunggu-tunggu akhirnya
muncul! Persis seperti tebakan saya sebelumnya, tokoh antagonis dalam novel ini
adalah seorang lelaki tampan, yang lahir dengan sendok emas di mulutnya.
Hidupnya dipenuhi segala macam fasilitas mewah namun memiliki otak kosong.
Sampai disini saya mulai bosan,
namun rasa penasaran masih lumayan kuat, saya masih mencari tahu, peristiwa apa
yang mencetak karakter Sam hingga seperti itu. Novel ini menggunakan alur maju
dan mundur. Pada halaman selanjutnya kembali menceritakan tentang kehidupan Sam
di Norwegia. Alur cerita dalam novel ini mudah untuk diikuti meskipun alur yang
dipakai adalah alur campuran. Kedekatan antara Sam dan Rasmus juga tidak
terkesan buru-buru, hingga akhirnya mereka menyadari adanya rasa diantara
mereka.
Hal yang saya sukai dari novel
ini adalah cara penyelesaian konflik, Sam yang berani terbuka dengan Ibunya
mengenai apa yang telah menimpanya. Hingga penyelesaian konflik asmara antara
Sam dengan Rasmus. Dari Sam dan Ibunya saya menjadi tahu, bagaimana perasaan
seorang anak yang tidak mau membebani Ibunya dengan masalah yang menimpanya.
Ibunda Sam juga tidak kalah menginspirasi perempuan lainnya. Dia digambarkan
menjadi seorang orang tua tunggal yang kuat. Dia kehilangan suami dan harus
membesarkan Sam sendirian, selain itu tugas berat sebagai seorang komisioner
KPK juga harus diembannya.
Rasmus juga tidak kalah
menghipnotis. Karakternya digambarkan sebagai seorang laki-laki yang bijaksana
dengan tingkat kecerdasan luar biasa. Jiwa sosialnya juga sangat tinggi, dia
melatih anak-anak terlantar hingga anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk
sebuah pertunjukan opera tingkat nasional.
Fav. Quote
Dari sekian banyak quote yang ada dalam novel ini, saya sangat suka dengan quote di halaman 143 yang di berbunyi: “...Belum tentu juga ada yang mengenalmu. Kalau pun ada yang kenal, belum tentu juga ada yang mengetahui ceritamu...”
Demikian, review novel dari sana.
Saya sangat mengharapkan kritik dan saran, sebab ini adalah pertama kalinya
saya membuat review novel.
Terima kasih.
Tulungagung, 15 Juli 2020
By. Perempuan yang
Sedang Belajar Menulis


Iki mesti seng tau di critakne bienn 😅 calon mu kan
BalasHapusYa Allah, ngakak akutu 😂 salah paham
Hapus