RELEVANSI NIKAH MUDA UNTUK GENERASI MILENIAL
Nikah
Muda- Nikah muda? Sejak dahulu penulis memang tidak memiliki keinginan
maupun cita-cita untuk menikah muda. Entah apa dulu yang menjadi alasannya.
Jadi ketika lulus Madrasah Aliyah dan satu persatu teman menikah tidak ada satu
pun rasa iri atau keinginan untuk menikah muda. Penulis malah senang kalau ada
teman yang lebih dulu nikah, memang saat itu yang ada dalam pikiran penulis
“menikah masih jauh”. Namun fenomena yang terjadi akhir-akhir ini ternyata mampu
menggelitik otak penulis, yaitu kecenderungan generasi milenial untuk nikah
muda. Apakah penulis termasuk generasi milenial? Merujuk pada Wikipedia
Indonesia sih iya! Dalam tulisan ini penulis lebih memfokuskan yang dimaksud
dengan generasi milenial adalah generasi 90’an.
Tulisan
ini akan sedikit memaparkan kegelisahan penulis, bagaimana relevansi nikah muda
untuk generasi milenial? Apakah benar nikah muda pilihan yang tepat untuk
generasi milenial yang katanya dekat dengan pacaran? Atau apakah nikah muda
justru malah menjadi boomerang sendiri bagi generasi milenial? Untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini penulis akan mencoba melihat fenomena nikah
muda dikalangan selebriti muda yang menjadi trend center generasi
milenial (tidak termasuk penulis lho ya! Hehehe). Fenomena nikah muda yang
cukup menggemparkan adalah pernikahan salah satu putra ustadz kondang di
Indonesia yang memutuskan untuk menikah diusia 17 tahun.
Kemudian
pernikahan putri salah satu pengacara kondang yang juga memutuskan untuk
menikah di usia belia. Dan akhir-akhir ini pernikahan artis dengan penyanyi
digadang-gadang menjadi pasangan ter-Uwwuu tahun ini. Bahkan sempat trending
sampai berhari-hari di media sosial. Tentu saja peristiwa ini membuat banyak
generasi milenial baper yang pengen nikah muda. Buktinya ya, di status
WA penulis berisi full video ke-Uwuan pasangan ini disertai dengan
caption-caption yang sejujurnya membuat penulis mules. Dan ternyata penulis
kebanyakan makan sambal bawang. J
Semalam juga
tidak kalah seru nih, di salah satu media sosial lagi-lagi trending kata kunci
“Mas Adam”. Setelah penulis buka ternyata banyak twit-twit yang mengarah pada
pasangan penyanyi Inul Daratista dan Mas Adam. Bukan hanya sekali nih pasangan
ini trending, beberapa minggu yang lalu pasangan ini juga trending.
Alhamdulillah, trendingnya masih berbau-bau Ke-Uwwuan. Dan entah kenapa penulis
secara pribadi seneng kalau lihat Ke-Uwwuan pasangan ini dari pada pasangan
muda zaman sekarang. (Monggo kalau kalian tidak sepaham dengan saya)
Dari penelusuran
yang penulis lakukan, ternyata pasangan mbak Inul dengan Mas Adam ini sudah
menikah selama 25 tahun. Jika dihitung-hitung tentu saja mereka menikah pada
usia muda atau istilahnya menikah muda. Tetapi tetap harmonis menjalankan
bahtera pernikahan. Apakah kemudian pasangan ini bisa dijadikan sebagai tolak
ukur keharmonisan menikah muda? Jika pun iya sayangnya dalam tulisan ini fokus
pada generasi milenial, dan pasangan Mbak Inul dan Mas Adam tidak bisa
dijadikan patokan. Lalu apakah saya akan mencari pasangan muda yang berasal
dari generasi 90’an untuk dijadikan patokan? Maaf saya tidak berniat untuk
mencari tolak ukur berupa pasangan muda yang sudah menikah. Sebab keadaan dan
kondisi masing-masing pasangan berbeda dan sulit untuk menentukan tolak ukur yang
tepat.
Penulis secara
pribadi menjadi tempat berkeluh kesah bagi teman-teman penulis yang sudah
menikah. Dan permasalahan yang mereka hadapi sangatlah runyam dan rumit,
beberapa hari yang lalu di media sosial lagi-lagi digegerkan dengan curhatan seorang
suami yang tinggal dirumah istrinya setelah menikah. Dan yang bersangkutan
beranggapan bahwa rumah yang dia tinggali menjadi rumah bersama setelah
menikah. Tentu saja anggapan ini keliru, rumah tersebut tetap menjadi harta
pribadi istri atau yang lebih dikenal dengan istilah harta bawaan. Ada lagi
kasus dimana seorang suami marah dan meminta pertanggungjawaban kepada istrinya
atas keadaan putra mereka yang memiliki kemampuan intelegent di bawah
rata-rata. Padahal sudah jelas bahwa merawat anak juga merupakan kewajiban dari
suami. Serta masih banyak lagi masalah-masalah lainnya. Dari banyaknya
permasalahan menunjukkan bahwa antara suami dan istri kurang memahami tugas
pokok dan fungsinya di keluarga.
Dampak dari
nikah mudah mungkin bisa berupa meningkatnya angka perceraian yang terjadi,
serta ketahanan keluarga setelah menikah. Dalam tulisan ini penulis tidak bisa
memastikan bahwa dampak tersebut pasti terjadi, sebab untuk menentukan dampak
harus melewati berbagai penelitian. Dan hal ini belum saya lakukan. Saya tidak
akan menentang trend nikah muda di kalangan milenial, sebab hal tersebut adalah
hak masing-masing individu. Saya secara pribadi memiliki anggapan bahwa nikah
muda tidak lagi relevan untuk generasi milenial. Alasannya yaitu:
1.
Dari segi ekonomi, sedikit
kemungkinan anak muda sukses pada usia di bawah 25 tahun. Meskipun faktanya
memang ada sih. Biaya menikah dan biaya setelah menikah harus dipikirkan
matang-matang. Kecuali bagi mereka yang memiliki orang tua kaya.
2.
Banyak kesempatan untuk
mengembangkan diri, baik bagi laki-laki dan perempuan, kesempatan untuk
melanjutkan sekolah (S1, S2, atau S3). Sebab sangat sulit untuk melanjutkan
sekolah ketika sudah menikah. Apalagi bagi seorang perempuan. Kesempatan
mengembangkan diri dalam hal karir juga terbuka lebar bagi generasi milenial di
era digital ini.
3.
Dari segi mental belum
matang, meskipun bagi sebagian orang mungkin sudah ada yang matang. Namun
menikah tidak sebercanda itu untuk hanya sekedar meluapkan rasa cinta.
Terlepas dari
pendapat pribadi saya, menikah muda itu boleh, asalkan memiliki bekal dan modal
yang memadai. Sebaiknya generasi milenial lebih memiliki pemikiran yang lebih
terbuka dan tidak mudah baper melihat tayangan-tayangan di media sosial tentang
menikah muda. Boleh melihat Ke-Uwuan mereka tetapi jangan lupa untuk melihat
kembali keadaan nyata yang ada pada diri kalian. Boleh memiliki cita-cita nikah
muda, tetapi juga harus diimbangi dengan modal yang memadai. Yuk! Cari modal
ilmu dan materi sebanyak mungkin sebelum memutuskan untuk nikah muda. Memang
benar menikah membuka rezeki, namun dalam prakteknya kehidupan setelah menikah
tak semudah teori. (Dari hasil curhatan teman-teman sih).
Sebenarnya
masih ada banyak hal yang ingin saya sampaikan, namun daripada tulisan ini
kepanjangan saya putuskan untuk menstopnya saja. Maaf jika tulisan ini lancing
sebab saya juga belum pernah merasakan kehidupan pernikahan. Atas kurang
lebihnya saya mohon maaf ya teman-teman!

Saya jadi ingat apa yang disampaikan guru saya waktu itu. Dalam fikih ada 2 topik yang tidak mudah dipahami kecuali dengan praktek secara langsung, haji dan pernikahan. Bagaimana In?π
BalasHapusInsyaAllah segera mempraktekkannya Bu, Pandonganipun nggeh πππ
HapusKan.. kena pulutnya, hihii
HapusBagi mereka yang mempunya privelage, boleh sih nikah muda. Namun, bagi pemuda dari golongan biasa-biasa saja -proletar yang hanya bisa gemetar- mereka harus menabung dan lain sebagainya. Ihuy ! (Pembelaan).
Bu Nur, kunjungilah blog saya. Memelas ini. Salam dari mahasiswa njenengan (semoga masih diakui). π
Kamu termasuk golongan mana nih?berani ndak nikah muda? Enggeh bu, mohon kunjungi blog mahasiswa ibu ini π
HapusMenikah muda itu pilihan. Setiap pilihan dibarengi dengan konsekuensi. Siap menikah usia muda, siaga dengan segala konsekuensi.
HapusTeringat teman perempuan yang nikah setelah lulus SMA. Sekitar empat tahun lalu. Dia menikah dengan laki-laki yang usianya cukup jauh berbeda.
BalasHapusSelama menikah, dia pernah cerita, bahwa menikah tak semudah yang dibayangkan "calon manten". Banyak ini itu yang menjadi tanggungjawab bersama yang kadang susah untuk dijalankan. Memang, dia tidak cerita secara detail tentang masalah pernikahan yang dia sebut tidak mudah itu, tetapi media sosial selalu menjadi tempat curhat terfavorit hampir semua orang (termasuk saya, hehehe).
Teringat teman perempuan yang nikah setelah lulus SMA. Sekitar empat tahun lalu. Dia menikah dengan laki-laki yang usianya cukup jauh berbeda.
BalasHapusSelama menikah, dia pernah cerita, bahwa menikah tak semudah yang dibayangkan "calon manten". Banyak ini itu yang menjadi tanggungjawab bersama yang kadang susah untuk dijalankan. Memang, dia tidak cerita secara detail tentang masalah pernikahan yang dia sebut tidak mudah itu, tetapi media sosial selalu menjadi tempat curhat terfavorit hampir semua orang (termasuk saya, hehehe).
Cari ilmu dan pengalaman sebanyaknya dulu ya sebelum nikah☺️ dan kalau udah nikah sebaiknya curhatnya di buku diary aja, jgn d sosmed. Boleh sih sosmed dijadiin temoat berkeluh kesah asal tau batasan dan masih single. Kalau udh nikah nanti ada pihak2 yg memanfaatkan bisa berabe π
Hapus