Apakah Benar Tidak Boleh Hajatan Berbarengan Dengan Kepala Desa?
Oleh:
Inama Anusantari
Minggu-minggu ini dan satu minggu kedepan memang menjadi
minggu-minggu dimana otak minta “dimanja”. Sedang tidak bisa diajak untuk
berpikir berat, jadi pada tulisan ini Saya menyajikan tulisan dengan tema yang
ringan. Latar belakang saya menulis kali ini adala semua berawal ketika Saya
sedang di balaidesa bersama bapak-bapak. Kebetulan terhitung sejak Akhir Tahun
2018 yang lalu Saya tergabung dengan organisasi yang terdiri dari 9 orang, 8 orang
diantaranya adalah bapak-bapak dan 1 orang lainnya adalah saya sendiri. Tentu
saja di sini saya yang paling cantik. Hehehe
Oke lanjut saja, beberapa hari yang lalu ketika Saya sedang
asyik ngobrol dengan bapak-bapak selepas “rapat”, salah satu bapak tiba-tiba
bertanya pada bapak lainnya “Pak, nduwe gawe bareng karo lurah opo oleh?”.
Lalu bapak satunya menjawab “Oleh, nyapo ora oleh”. “Oh, yawis, kae
lho Pak Dhe Suto mosok arepe mantu bareng karo pak lurah”. “Eh
Ojo!” tanggapan bapak yang satunya. “Maeng jarene oleh, sak iki kok ora
oleh! Piye to pak maksudmu!” Otomatis saya dan bapak-bapak lainnya tertawa
mendengar obrolan dua bapak tersebut.
Obrolan mereka berdua membuat saya tertarik dan tiba-tiba
tanpa dikomando mulud saya menyelethuk, “Lho, nopo pak kok mboten pareng hajatan
sarengan Pak Lurah?” Salah satu bapak menjawab “Lhoh, ancen ora oleh lho
mbak. Lurah ki danyangan urip, lek enek sing duwe gawe bareng luring ki mesti
kalah, enthek sembarangane”. “Lhoh sampun terbukti to pak niki?” Tanyaku
yang tambah penasaran. “Uwes mbak, kae lho Pak Fulan duwe gawe barengan
lurah (periode sebelumnya) yo kukut sembarangane”. Saya hanya diam sambil
manggut-manggut, otomatis tanganku langsung scroll goole dan mencari
tahu, apakah ada jurnal yang membahasnya atau belum.
Ternyata belum ada jurnal yang membahas masalah tersebut,
entah benar atau tidak. Disini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa hal
tersebut merupakan kepercayaan warga di desaku. Saat aku bertanya lebih dalam
pun jawabannya juga sebatas kalau lurah atau kepala desa adalah danyangan
urip. Kata danyangan sendiri berasal dari kata dhanyang yang
memiliki arti roh halus yang melindungi suatu wilayah atau tempat, misalnya
gunung, pohon, desa, mata air dan sebagainnya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia danyang memiliki arti sebagai hantu penjaga baik di rumah, pohon,
desa dan sebagainya.
Memang agak ngeri kalau melihat definisi danyangan tersebut
di atas. Benar atau tidak asumsi warga desa Saya sendiri juga tidak bisa
menilai, apalagi kalau sudah menyangkut kepercayaan masyarakat desa. Kemudian
apabila ada pertanyaan apakah benar tidak boleh hajatan berbarengan dengan
kepala desa/lurah? Semua bisa dikembalikan pada pribadi masing-masing, apabila
mantep dan jejek ya monggo. Kebudayaan dan kepercayaan di negara
kita khususnya di Pulau Jawa memang sangat beragam, kepercayaan hajatan
bebarengan kepala desa ini salah satunya.
Apabila ada kesempatan untuk berdiskusi dengan ulama’ atau
tokoh agama saya akan mencoba untuk menanyakan ulang hal ini. Mengingat
pengetahuan saya tentang ilmu agama yang sangat kurang, membuat saya tidak memiliki
kapasitas menulis hal ini dalam perspektif hukum Islam. Atau mungkin bagi
teman-teman pembaca berkenan untuk berbagi pengetahuan dengan saya terkait hal
ini? Terimaksasih :-)
Tulungagung, 30 Desember 2020

Komentar
Posting Komentar