Tidak Semua Keluarga Kuat, Tapi Semua Keluarga Memiliki Kekuatan Part 1

 

Photo By: Drew Hays/Unsplash

        Beberapa bulan terakhir penulis tertarik dengan teori kekuatan keluarga yang digagas oleh DeFrain dkk, yaitu International Familiy Strength Model. Karakteristik dari teori kekuatan keluarga ini yaitu fokus pada “keunikan” yang dimiliki oleh suatu keluarga yang kemudian akan menjadi sumber kekuatan keluarga. Secara lebih spesifik dalam konteks tulisan ini penulis mendefinisikan “Keunikan” yang dimaksud yaitu suatu hal yang dianggap tidak memenuhi standar society sebagai keluarga harmonis pada umumnya. Contoh relevan dari istilah “keunikan” di atas yaitu keluarga yang menghadapi krisis datangnya orang ketiga dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Kehidupan rumah tangga semacam ini banyak sekali penulis jumpai dalam dunia nyata maupun yang ditampilkan dalam layar kaca. Apakah keluarga yang ditimpa krisis semacam ini tidak memiliki peluang untuk menjadi keluarga yang kuat nan tangguh?

        Demi menjawab pertanyaan diatas dibutuhkan pemikiran dan perasaan sedikit dalam. Pertama harus dimulai dari merekonstruksi ulang tujuan dari dibangunnya keluarga yaitu yang dimulai dari dibentuknya ikatan perkawinan dua orang asing yang berbeda jenis kelamin. Kenapa disini penulis menulis istilah “berbeda jenis kelamin”? Sebab dari pandangan penulis pernikahan sesama kelamin tidak bisa didefinisikan sebagai pernikahan. Oke kembali lagi pada tujuan dibangunnya keluarga yang dimulai dari ikatan perkawinan. Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Undang-undang Perkawinan), tujuan dari perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) tujuan dari perkawinan yaitu Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.Dengan melihat kembali tujuan dari dibentuknya perkawinan baik dalam kacamata Undang-undang Perkawinan maupun KHI, muara dari perkawinan yaitu membentuk keluarga yang kuat nan tangguh.

        Hal kedua untuk menjawab pertanyaan diatas yaitu dengan tamparan realita. Pasti setiap orang memiliki harapan memiliki keluarga kuat, namun faktanya harapan sering kali bertentangan dengan takdir. Tidak sedikit keluarga yang diuji dengan hadirnya tokoh baru dalam kisahnya mengarungi kehidupan rumah tangga. Terdapat dua jenis keputusan yang diambil oleh anggota rumah tangga, pertama sebagian dari mereka memilih menutup mata dan melanjutkan kisah kehidupan rumah tangga dengan alasan demi anak. Dan kedua, sebagian dari mereka lebih memilih mengakhiri kisah dan melanjutkan kisah baru bersama anaknya. Dalam tulisan ini penulis fokus menggali kekuatan keluarga pada keluarga yang memilih keputusan kedua. Sebab, hingga saat ini penulis masih belum menemukan keselarasan cara berpikir dari pembenaran pilihan pertama yang dijadikan alasan untuk bertahan dengan keluarga yang demikian. Namun, penulis sedikit pun tidak menyalahkan mereka yang lebih memilih bertahan dengan keluarga sebelumnya yang sudah dengan sengaja menyelundupkan tokoh baru dalam kisah rumah tangganya.

Pilihan kedua memberikan konsekuensi menjadi single parent dan mewujudkan keluarga kuat dengan “keunikan” yang dimiliki. Tentu saja membangun keluarga kuat dengan kondisi seperti ini tidaklah mudah. Dibutuhkan kerjasama ektra antara anggota keluarga yang tersisa untuk membentuk keluarga baru yang kuat dengan “keunikan” yang dimiliki. Dimensi kekuatan keluarga dalam teori International Family Strength Model diantaranya yaitu komitmen, kemampuan menghadapi krisis dan stress, komunikasi positif, apresiasi dan afeksi satu sama lain, menghabiskan waktu bersama, dan kesejahteraan spiritual.

Komitmen untuk menjadi keluarga baru dengan “keunikan” yang nyatanya malah menjadi sumber kekuatan bagi keluarga baru tersebut. Salah satu keluarga yang dikepalai oleh single parent mampu menciptakan komitmen yang luar biasa meskipun secara de jure belum pernah ada perjanjian secara tertulis. Namun secara de facto masing-masing anggota keluarga baru ini sama-sama memiliki komitmen untuk saling menjaga dan saling menguatkan. Keluarga baru ini mampu survive dan berprestasi. Keluarga baru akan menjadi semakin hati-hati supaya tidak menimbulkan luka baru yang malah mengakibatkan saling menyakiti. Secara tidak disadari, sebenarnya masing-masing anggota keluarga memiliki komitmen untuk menjadi kuat secara individu. Sebab, secara teori, mustahil seseorang menjadi sumber kekuatan bagi orang lain, apabila dirinya sendiri tidak kuat. Disinilah sebenarnya letak “keunikan” yang menjdi sumber kekuatan.

Kekuatan individu semacam ini memang sering tidak disadari. Hal ini dikarenakan secara manusiawi manusia memang terlalu fokus pada masalah yang tengah dihadapi dibandingkan dengan kekuatan yang sebenarnya dimiliki. Menjadi manusia dan terpuruk ketika tertimpa krisis itu memanglah sifat asli manusia, manusiawi. Disinilah letak perbedaan manusia yang manusia dengan manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang manusia akan tenggelam dalam keterpurukan. Sedangkan manusia yang memanusiakan manusia pasti tahu cara mengatasi krisis sehingga tidak tenggelam dalam keterpurukan. Sebab manusia yang memanusiakan manusia tahu perannya sebagai anggota keluarga, yaitu saling menopang anggota keluarga lain. Syarat untuk bisa menopang anggota keluarga lainnya yaitu haruslah kuat secara individu.

Mungkin pada kesempatan kali ini cukup sekian yang perlu penulis paparkan. Apabila diberikan usia yang panjang, InsyaAllah akan dilanjutkan pada part 2. Terimakasih sudah berkenan meluangkan waktu dan kuota untuk membaca tulisan receh ini. Salam Sehat Selalu (S3) J Wassalam.

 

Tulungagung, 11 Agustus 2021

Dari ku yang mencoba pulih bukan untuk dipilih.

Komentar

Postingan Populer