HATI-HATI MENGGUNAKAN LATHI

         Lathi- Beberapa hari ini saya tidak sempat untuk sekedar menikmati guyonan atau pun mengikuti berita terbaru di sosial media. Oleh karena itu saya tidak punya bahan untuk menulis peristiwa terbaru. Dari pada saya tidak memiliki tulisan pada minggu ini, saya akan menulis pengalaman saya yang terbaru. Peristiwa ini terjadi hari minggu kemarin tepatnya tanggal 6 September 2020. Sedari pagi sejak pukul setengah 9 Saya sudah siap menjemput teman untuk berkeliling desa. Ceritanya memang saya sedang menjadi petugas sensus, hanya saja kali ini saya mendapatkan wilayah yang ada diujung desa yang jauh dari rumah saya. Jadi meskipun wilayah yang saya dapatkan satu desa tetapi wilayahnya benar-benar asing. Maklum saya kan anak rumahan, heheh

       Perjalanan kami sebenarnya cukup lancar dan pada saat azan duhur kami singgah sebentar di mushola terdekat. Sudah pasti kita menjadi objek pertanyaan bapak dan ibu yang ada di mushola, beliau tanya kami rumahnya mana? Ada keperluan apa? Dan sebagainya. Hal seperti ini sebenarnya wajar saja, mengingat memang wajah-wajah kami asing bagi mereka. Setelah waktu istirahat kami anggap cukup, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan sudah berganti ke RT sebelah. Masalah-masalah yang terjadi di lapangan menurut saya hal yang wajar, dan bisa diselesaikan dengan baik.

     Peristiwa sedih? Lucu? Atau apalah saya sendiri juga sulit untuk mendefinisikannya terjadi ketika sudah sore hari, sekitar jam 5 sore lebih. Setelah dari satu rumah yang ternyata tutup, saya berjalan dengan gontai, karena memang keadaan fisik sudah payah. Motor dikemudikan oleh teman saya, saya lebih memilih berjalan kaki saja, soalnya rumah yang akan kami sensus selanjutnya hanya berjarak beberapa meter saja. Setelah beberapa detik sampailah saya di depan rumah berpagar besi, dengan lebar halaman yang luas. Rumah yang akan kami sensus kali ini termasuk rumah orang berada, hal ini kami simpulkan setelah melihat keadaan rumah yang mewah untuk ukuran rumah di desa yaitu rumah dua lantai dengan keadaan rumah yang serba luas.

     Seperti biasa, saya mengucap salam “Assalamu’alaikum”, sampai saya ulangi beberapa kali. Mungkin yang mempunyai rumah masih sibuk, mengingat kami datang pada jam-jam dimana biasanya orang sibuk dengan keperluan pribadinya. Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, kami sudah mendapatkan jawaban dari pemiliki rumah.

Wa’alaikumsalam, enten nopo nggih mbak”. Keluarlah pemilik rumah, yang ternyata adalah seorang perempuan muda yang tengah hamil, kemungkinan hamil 6 bulan.

Ngeten mbak, niki badhe sensus penduduk, kulo angsal info, cirose mas Budi (nama samaran) kok enten tambahan istri, nggeh? Niki badhe kulo data

Mendengar jawabanku pemilik rumah seperti bingung, sampai akhirnya berucap “monggo pinarak riyen mbak” sambil mengantarkan kami untuk menuju ruang tamu.

Setelah kami duduk beliau kembali berucap “pripun mbak?”

Ngeten, niki badhe sensus penduduk, kulo ngampil KK sekedap pareng nopo mboten nggeh mbak? kulo angsal info menawi teng keluarga niki enten tambahan keluarga, istri mas Budi kalih yugane, nopo leres?

“Oh, enggeh mbak, pareng, kulo pendhet riyen nggeh” beranjak dari duduknya dan mengambil KK

        Singkat cerita, setelah saya selesai mendata di rumah ini, saya berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari data penduduk berikutnya. “Sampun nggeh mbak, matursuwun nggeh” saya dan teman saya mulai beranjak dari duduk, namun pemilik rumah bertanya menjawab “Lho sampun to mbak? Ngoten mawon? Ya Allah mbak, kulo kaget lho. Wau mbak e sanjang cirose mas Budi nambah istri. Kulo kinten lekne mas Budi nikah maleh. Lha mas Budi mboten nate teng pundi-pundi lho, gek kapan lekne nambah istri. Lha wong mas Budi asli petani uthon”. Mendengar jawaban pemilik rumah saya langsung diam, berbanding terbalik dengan teman saya yang langsung ngakak terpingkal-pingkal tanpa ditahan lagi. Saya diam masih mengingat-ingat kembali kalimat yang saya ucapkan diawal tadi. “Enten tambahan istri waduh, benar juga. Tidak salah kalau pemilik rumah ngira suaminya nambah istri.

        Terlepas saya salah ngomong atau tidak yang jelas bahasa yang saya gunakan ambigu, apalagi bagi orang awam yang dari awal tidak berhubungan langsung dengan sensus penduduk. Saya langsung meminta maaf kepada pemilik rumah, kalau saya salah bicara dan tidak bermaksud demikian. Alhamdulillah pemilik rumah menerima permintaan maaf saya dan ekspresinya sudah tidak tegang seperti saat kami datang pas diawal tadi. Ketika kami mengulangi untuk berpamitan, pemilik rumah malah menahan kami, dan bersikeras mau membuatkan minum dahulu. Namun kami menolak dengan halus, bukannya apa-apa, kami hanya tidak mau kalau kelamaan disini, dan nanti maghrib masih belum selesai target 1 RT.

        Pengalaman yang lucu atau sedih entahlah. Yang paling penting bisa menjadi pelajaran untuk saya kedepannya. Supaya lebih berhati-hati ketika berbicara atau menyusun kata-kata agar tidak terdengar ambigu dan multitafsir. Demikian sedikit cerita saya, maaf apabila ada typo bertebaran. Terimakasih 

 

Tulungagung, 9 September 2020

Komentar

  1. Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono. mantab tulisannya, mencerahkan...

    BalasHapus
  2. Inggih leres ketambahan istri hehehe... cerita yang mengalir mudah dipahami.. sar

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂 ngapunten salah ngomong. Maturusuwn sudah mampir

      Hapus
  3. Cerita yg bagus. Alurnya tersusun sistematis. Sip

    BalasHapus
  4. hehe, waktu baca di kalimat awal" tadi pahamnya kalau yg bersangkutan 'nambah' istri juga.
    Ternyata... (barusan menikah).

    BalasHapus
  5. Nunggu tanggapankomentar dari penulis. Komentatornya sudah pada menunggu..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer