ANTARA REFLEKSI, SIMPATI DAN EMPATI


       Sebenarnya saya juga bingung harus menulis apa hari ini, namun melihat tanggal yang ternyata sudah berada di penghujung bulan dan menunjukkan angka 30, mau tidak mau pasti benak kita akan langsung mengarah pada kejadian luar biasa G-30S/PKI. Tanggal 30 September akan selalu mengingatkan kita dengan sejarah kelam keganasanan komunis. Salah satu peristiwa yang menurut saya pribadi sangat tidak manusiawi adalah ditembaknya malaikat kecil yang berusaha menjadi tameng ayahandanya, Jenderal Besar Dr. Abdul Harris Nasution. Malaikan kecil tersebut bernama Ade Irma Suryani Nasution yang saat itu masih berumur 5 tahun. Ade Irma Suryani Nasution meninggal pada tanggal 6 oktober yaitu 6 hari setelah kejadian kelam malam itu. (sumber Wikipedia Indonesia)

      Di dalam Islam pun dilarang menyerang anak-anak dan perempuan dikala perang terjadi. Namun hal yang tidak kalah miris dan mencengangkan juga terjadi di belahan bumi lain, kejadian ini malah terjadi di masa modern dikala hak-hak manusia telah lama didengungkan oleh sebagian besar organisasi-organisasi dunia. Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang hal ini, sebab saya memang belum memiliki kapasitas untuk membahas permasalahan ini. Saya hanya akan fokus pada kasus kekerasan pada anak, tentu saja khusus di lingkungan yang paling kecil/sederhana yaitu keluarga.

  Sudah banyak sekali media-media memberitakan kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua atau orang terdekatnya. Bahkan kasus kekerasan ini tidak jarang sampai menyebabkan anak kehilangan nyawa. Pada saat pandemi seperti saat ini ternyata rentan bagi anak menjadi korban kekerasan. Mengutip dari Liputan 6 dari berita yang berjudul “Belajar Online Telan Korban Jiwa, KPAI Ingatkan Orangtua dan Guru Bangun Komunikasi”. Korban merupakan anak SD yang masih berusia 8 tahun, dan pelaku dari kejadian ini adalah orang tuanya sendiri.

Belajar online atau jarak jauh di kala pandemi memang tidaklah mudah. Apalagi bagi orang tua yang tidak terbiasa dengan teknologi dan memiliki pola asuh ‘pasrah’ kepada pihak sekolah dalam hal belajar. Memang orang tua mengalami banyak tekanan dan beban di masa pandemi, apalagi ditambah harus mendampingi anak-anaknya pada saat belajar jarak jauh dari rumah. Disinilah peran kesabaran orang tua diuji habis-habisan, apalagi apabila anak masih berusia 8 tahun. Dalam kejadian ini yang sangat miris adalah pelaku (orang tua) yang memakamkan anaknya diam-diam di TPU desa setempat. Di sini saya sudah kehabisan kata-kata.

Kekerasan pada anak lainnya yang sering dilakukan namun tidak disadari adalah membentak anak. Hal ini sangat sering saya temukan di kehidupan sehari-hari. Saya kadang merasa takut, kalau nanti saya juga akan melakukan hal yang sama kalau memiliki anak. Memiliki kesabaran ekstra memang sangat diperlukan oleh prang tua. Menjadi orang tua itu pilihan, namun seorang anak tidak akan pernah bisa memilih siapa orang tuanya. Terimakasih sudah membaca tulisan saya yang tidak jelas ini ya.

 

 

                 

 

Komentar

Postingan Populer