Usia Matang Vs Pertanyaan Kapan Nikah?


Kapan Nikah- Berawal dari kasus bungkus-membungkus yang viral dikarenakan salah satu korban berani untuk speak up di publik. Oleh karena itu melalui tulisan ini Saya mewakili orang-orang di luar sana yang selalu ditanya dengan pertanyaan “Kapan Nikah?” Pertanyaan ini sering dijadikan candaan ketika sedang acara keluarga, reuni, momen hari raya, bahkan ketika berkunjung ke rumah teman.

Pertanyaan “Kapan Nikah?” yang dilontarkan entah untuk sekedar basa-basi, guyonan atau memang karena peduli, menurut Saya pribadi sebenarnya tidak dibutuhkan oleh para laki-laki dan para perempuan lajang di usia matang. Kenapa? Pertanyaan ini sebenarnya adalah sebuah pertanyaan retoris. Bagaimana tidak? Siapa manusia yang hidup di atas bumi ini yang tahu kapan dia akan menikah? Bukankah jodoh, maut, rizeqi adalah takdir Allah Azza Wajalla? Jadi pertanyaan itu jelas sangat tidak relevan untuk dipertanyakan lagi!

Dari hasil observasi kecil-kecil yang Saya lakukan dengan beberapa teman perempuan yang masih lajang, ternyata tanpa kita sadari pertanyaan “Kapan Nikah?” memberikan dampak negatif lho? Yaitu menyakiti yang ditanya secara psikologis. Sebelum melontarkan pertanyaan tersebut, Apakah penanya sudah mencari tahu apa yang membuat orang-orang dengan usia matang belum juga memutuskan untuk menikah? Bisa jadi yang menjadi alasannya adalah alasan yang sangat privasi dan juga sangat sensitif bagi mereka. Oleh karena itu, sebaiknya jangan bertanya “Kapan Nikah?” untuk menjaga perasaan satu sama lain. Apalagi di kalangan kaum perempuan khususnya, kaum yang dijustifikasi perasa dan lebih peka. Miris rasanya jika yang bertanya malah justru dari kalangan kaum perempuan! Secara pribadi Saya setuju dengan quote dari Mba Najwa Shihab yang berbunyi “...Terkadang tanpa sadar atau bahkan secara sadar dilakukan. Justru malah perempuan yang lebih sering menjatuhkan sesama perempuan lain”.

Dari beberapa media online, Saya juga menemukan reaksi negatif dari pertanyaan “Kapan Nikah?” Dampak ini Saya anggap sebagai dampak negatif yang paling ekstrem, yaitu berakhir pada pembunuhan. Tepatnya pada bulan Februari tahun 2018 yang lalu di daerah Garut. Reaksi unik juga ditunjukkan oleh salah satu mahasiswi Oxford Inggris yang menyatakan dan mantap menikah dengan dirinya sendiri di Quepasa Bar di daerah Ibu Kota Uganda pada bulan Agustus 2018 yang lalu. Mahasiswi ini mengaku bahwa keputusannya tersebut dipilih sebab lelah selalu ditanya “Kapan Menikah”. Namun terlepas dari reaksi-reaksi tersebut di atas, terdapat pula reaksi positif, yaitu menjadi inspirasi dalam pembuatan film. Pada tahun 2015 lalu, salah satu sutradara film terkenal di Indonesia membuat film yang berjudul “Kapan Kawin?”.

Percaya atau tidak pertanyaan “Kapan Nikah?” menjadi momok bagi kaum jomblo di momen lebaran. Banyak kaos yang beredar di pasaran yang bertuliskan “Tolong jangan tanya kapan nikah” dan kalimat-kalimat sejenisnya. Ada pula aksi pemudik yang menuliskan kata-kata seperti tidak membawa calon menantu yang ditempel pada tas atau motornya. Meme-meme serupa juga sudah banyak beredar di sosial media. Cara-cara tersebut sebenarnya memiliki maksud dan tujuan, yaitu untuk membentengi diri supaya tidak ditanyai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tentang status. Menurut Psikolog Laelatus Syifa, M. Psi yang Saya kutip dari situs Kontan.co.id menjelaskan bahwa pertanyaan “Kapan Nikah” bisa memberikan efek negatif, yaitu menimbulkan frustasi, stress hingga menghindar secara sosial. Efek negatif ini biasanya dipicu oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal bisa jadi berupa trauma dalam diri orang yang tanya, cara berpikir orang yang ditanya, kepercayaan diri orang yang ditanya, dan putus hubungan cinta.

Apabila pada diri individu merasa bahwa pertanyaan “Kapan Nikah?” sebagai tuntutan, kemudian individu tersebut membandingkan antara dirinya dengan orang lain, maka hal ini akan memicu efek negatif. Untuk menghadapi pertanyaan ini, kepercayaan diri ada hal yang sangat penting. Bagi orang yang memiliki kepercayaan tinggi pertanyaan semacam ini bukanlah hal yang akan memberikan dampak negatif. Namun, bagi individu yang insecure pertanyaan macam ini akan menjadikannya sebagai beban. Selain itu, bagi bagi individu yang sudah matang dari segi usia, pertanyaan semacam ini menjadi pertanyaan yang sangat sensitif. Sebab, mereka memiliki harapan tinggi terhadap pernikahan, namun kenyataan masih belum bisa terealisasikan.

Alih-alih bertanya “Kapan Menikah?” bukankah lebih berfaedah jika bertanya “Apakah sudah menikah?” apabila yang ditanya menjawab “Belum” maka penannya dapat melanjutkan pertanyaan dengan “Apakah sudah memiliki calon suami/istri?”. Apabila jawaban orang yang ditanya adalah “belum” maka penanya bisa membantu mencarikan solusi, entah merekomendasikan calon atau sekedar mendoakan supaya didekatkan dengan jodoh. Setidaknya pertanyaan ini membuktikan bahwa penanya benar-benar peduli dan benar-benar ingin bertanya bukan hanya sekedar basa-basi atau bahkan bukan hanya sekedar ejekan. Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat. Saya sangat mengharapkan kritik dan saran. Terimakasih J

 

 

Tulungagung, 5 Agustus 2020

 

 

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer