Pengingat di Tengah Otak Penat
Oleh: Inama Anusantari
Selasa,
13 April 2021, tepatnya pukul 09:45 WIB, notifikasi WhatsApp ku yang memang
jarang “absen” tiba-tiba menampilkan sebuah nama. Tidak seperti biasanya dimana
aku yang sering kali abai dengan chat WA, kali ini aku melihatnya dan
membacanya, tepatnya pesan WA tersebut berbunyi seperti ini, “Assalamualaikum
kak In*** ... Mohon maaf mengganggu waktunya ๐๐ป๐๐ป
Saya De*** dari MAN 1 mau ujian SKU.... Kira" njenengan bisanya
kapan ya kak?”. Seperkian detik otakku mencerna akhirnya aku membalas pesan
tersebut. Mengingat sudah memasuki bulan Ramadhan, dan memang sedikit kesulitan
untuk mengatur waktu, akhirnya aku menentukan waktu ujian pada malam hari
setelah shalat Tarawih. Rencana ujian SKU yang dilakukan beramai-ramai dengan 4
orang peserta, namun akhirnya hanya 1 orang peserta yang siap. Tanpa membuang-buang
waktu, mengingat juga sudah malam, akhirnya dengan peserta seadanya aku memulai
ujian SKU yang memang sudah lama tidak kami lakukan.
Kondisi
yang masih belum memungkinkan untuk ujian secara langsung harus membuat kami
ikhlas bertemu via online. Mungkin mereka lebih suka jika
pelaksanaan ujian SKU secara online seperti ini, dari pada ujian secara
langsung. Alasannya kalua secara langsung mereka bakalan dredek dan
sebagainya. Secara otomatis ujian SKU secara online ini mengingatkanku
bahwa aku memang masih memiliki tanggung jawab lainnya. Setelah ku pikir-pikir,
aku memang harus mengucap syukur kepada Tuhan atas kondisi pandemi saat ini. Dengan
segala hal baru yang saat ini harus aku tanggung dan hadapi, sepertinya aku
bakalan keteteran andai saja sekolah masuk tatap muka seperti biasa. Ya
meskipun aku bukan seorang guru yang harus setiap hari bertatap muka dengan adek-adek,
namun ada kalanya aku memang bertanggung jawab terhadap kegiatan adek-adek di dalam
kelas maupun di lapangan.
Ujian
SKU hanya aku selesaikan dalam waktu kurang dari 1 jam, dan tentu saja diakhiri
dengan tugas tambahan. Menguasai materi-materi ujian saja masih belum cukup,
apabila belum ada action atau praktek terhadap materi yang mereka
kuasai. Sebenarnya tujuannya sangat sederhana, yaitu mereka tidak hanya mahir dalam
teori, namun juga tidak canggung dan biasa terhadap lingkungan sekitar mereka. Misalnya
dalam materi AD-ART Gerakan Pramuka, dalam salah satu pasalnya menyebutkan tentang
toleransi. Simpel saja, tugas untuk mereka hanya menceritakan Kembali dalam
bentuk narasi bagaimana bentuk toleransi di lingkungan sekitar mereka selama
bulan Ramadhan ini terhadap pemeluk agama lain maupun terhadap orang-orang yang
menjalankan puasa dengan start lebih awal. Tujuannya ya supaya mereka
terbiasa menguraikan sebuah cerita dalam bentuk tulisan. Itu tadi sedikit
gambaran tentang rutinitas yang dahulu sering kali aku lakukan namun saat ini
sudah sangat jarang.
Demikian sedikit pengingat di tengah otak yang mulai penat karena diri ini merasa menjadi budak korporat. Setiap detik selalu mencari-cari alibi untuk tidak mengingat tanggungan yang lain. Capek juga ya! Hehehehe
Maaf typo bertebaran๐๐
Tulungagung, 14 April
2021


Komentar
Posting Komentar