MENEMUKAN CINTA SEJATI
Oleh: Inama Anusantari
Ada yang
bilang bahwa cinta sejati itu seperti hantu. Banyak yang membicarakannya namun
jarang ada yang menemukannya. Saya merasa sangat bersyukur, sebab menemukan cinta
sejati meskipun hanya lewat perantara dua orang dengan usia senja dua hari
hari. Sejak tanggal 1 Maret 2021 yang lalu, Saya mencari kesibukan dengan
mendatangi rumah warga satu persatu. Kali ini saya mencoba mengambil satu desa
di Kabupaten Tulungagung, sebut saja desa Kedondong. Awalnya yang saya tuju
adalah ketua RT setempat. Namun, alangkah terkejutnya saya, ketika istri bapak
RT yang saya datangi mengucapkan kalimat “bapak sampun mboten enten mbak”.
Dengan rasa sedih saya mengucap Innalillahi wa Innailaihi raji’un, sebagai bentuk ucapan ikut berbela sungkawa saya haturkan kepada perempuan
dengan usia senja yang duduk di depan saya.
Karena
kondisi masih pandemi, kami berbincang dengan tetap mematuhi protokol
kesehatan. Kami berbincang ngalor ngidul, hingga akhirnya pembicaraan kami
sudah hampir berada di titik ujung. Setelah hampir 2 jam kami mengobrol dengan
topik di luar Almarhum, akhirnya tiba saatnya Ibu ini kembali
bercerita tentang Almarhum. Ibu itu bercerita bahwa Almarhum sudah sakit lama
dan keadaanya Almarhum mulai memburuk sejak dunia mengalami duka nestapa
diakibatkan virus corona. Di hari-hari terakhir sebelum Almarhum berpulang, Ibu
ini yang merawat, bisa dipastikan bahwa setiap hari Ibu yang berada di samping
Almarhum. “Kulo niku sampek sak niki lekne dalu mboten saged tilem lho mbak,
panggah keton-ketonen bapak ae. Sak niki bapak pun ninggalne kulo saklawase
mbak”. Saya tahu bahwa yang dibutuhkan oleh Ibu ini bukan ucapan “sabar”
yang keluar dari muludku. Melainkan, hanya pendengar yang baik.
Berpindah
pada wilayah berikutnya, kali ini yang menjadi rekan berbincang saya adalah
seorang bapak dengan usia senja. Seperti biasa, saya dan bapak ini berbicara
ngalor-ngidul, hingga sampai pada pertanyaanku kepada beliau “bapak piyambak
an teng griyo”, dan beliau menjawab “enggeh, mbak, Ibuk pun ninggal
dangu”. Mendengar jawaban beliau, saya merasa bahwa pilihan saya untuk “mengobrol”
di teras rumah adalah pilihan yang tepat. Bukan su’udzon, namun menjaga dari
hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat saya mendatangi beliau sendirian.
Oke lanjut ya! Disini saya menemukan
cerita tentang cinta sejati yang menggetarkan hati. Beliau sempat bercerita
bahwa sebelum istrinya meninggal, sudah berkali-kali beliau mengatakan hal yang
serupa kepada istrinya. Hal tersebut yaitu “Buk, sok awak e mati bareng ae”,
“mati bareng piye lho pak? Kok aneh-aneh”, “yo mati sak lueng di gawe 2 endhas”.
Jujur saya kala itu langsung merinding.
Bukan karena
suasana mistis yang tiba-tiba muncul, namun seketika lirik lagu Banda Neira
yang berjudul “sampai jadi debu” terngiang di telingaku. Saya kira itu hanya
lirik lagu belaka, namun benar-benar ada orang yang berpikiran demikian. Bahkan
dimakamkan secara bersebelahan, namun ingin dijadikan satu. Beliau masih saja
menceritakan bagaimana kehidupan semasa hidup Almarhumah dengannya. Sepulang
dari tempat ini, saya jadi bertanya-tanya, bahwa memang cinta sejati itu ada
dan nyata. Apakah dari teman-teman juga sudah ada yang menemuinya? Share di
kolom komentar dong kalau tidak keberatan! Hehehehe
Tulungagung, 3 Maret 2021

Ya, saya pun yakin tentang keberadaannya. Cinta yg tanpa mengenal kata tapi. Terlebih memandang materi.
BalasHapusMenerima segala kekurangan & kelebihan yg ada pada masing-masing pribadi.
Semoga masnya segera dipertemukan dengan cinta sejatinya, Aamiiin
HapusCinta kita melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh sukacita, sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu
BalasHapusCinta kita sejati~
Proses menuju cinta sejati itu tentu banyak melewati berbagai masalah. Hingga bermuara pada cinta yang utuh terhadap pasangan. Semoga kita dapat menikmati cinta sejati dengan pasangan hidup yang dipilhkan oleh Allah. Amiin
BalasHapus