KURANG-KURANGI RASA KHAWATIR BERLEBIHAN YANG TIDAK PERLU

 

“Menghina Tuhan tak perlu dengan umpatan dan membakar kitabNya. Khawatir besok kamu tidak bisa makan saja itu sudah menghina Tuhan”- Sujiwo Tedjo

 

Khawatir- Apa yang dimaksud dengan rasa khawatir? Rasa khawatir diartikan sebagai sikap dimana seseorang menjadi berpikir berlebihan dan merasakan cemas yang berlebihan ketika menghadapi suatu masalah atau menjalankan situati tertentu. Rasa khawatir yang berlebihan akan menyebabkan seseorang menjadi terganggu bahkan yang paling buruk adalah mengganggu aktivitas sehari-hari. Apabila kondisi semakin memburuk dan berangsur-angsur bertambah parah, rasa khawatir bisa menyebabkan gangguan kecemasan dan menyebabkan kepanikan. Hal ini tentu bisa berpotensi menjadi masalah besar jika tidak segera diatasi.

Dalam tulisan ini saya akan berbagi pengalaman pribadi tentang rasa khawatir berlebihan yang tidak perlu. Tepatnya pengalaman ini saya alami diakhir semester 1 dan awal semester 2. Saat itu saya sedang menghadapi hari-hari terakhir membayar SPP (untuk semester 2). Setiap semester memang akan ada 1 mahasiswa yang terbebas dari membayar SPP, tentu saja harus menyabet predikat pemilik IPK terbaik di kelas. Dan celakanya nilai semester 1 saat itu belum juga keluar, sedangkan kelas tanggal terakhir membayar SPP sudah didepan mata. Dari awal saya memutuskan untuk mengambil kesempatan melanjutkan kuliah S2 adalah memang saya sudah berniat untuk berjuang mati-matian (buat bayar SPP). Meskipun kala itu ada embel-embel ‘tetap bisa mempertahankan’ predikat terbaik. Tapi saya mengantisipasi situasi yang terburuk, yaitu dengan tetap menyiapkan uang untuk membayar SPP.

Dalam kondisi yang serba tidak pasti, antara apakah mendapatkan nilai terbaik atau tidak, atau apakah saya harus membayar SPP. Akhirnya saya memutuskan untuk membayar SPP saja, ya dari pada bersandar pada hal yang tidak pasti. Alhamdulillah dengan mengucap syukur kepada Tuhan, akhirnya saya melangkah dengan pasti ke teller bank. Apabila kalian bertanya dari mana saya mendapatkan uang. Maka dengan sederhana saya akan menjawab dari Tuhan. Apakah perlu saya bercerita tentang hal ini? Saya rasa tidak perlu lah ya! hehehe

Dari awal saya memutuskan untuk kuliah, saya sudah tidak mau membebani orang tua, apalagi dalam hal finansial. Sebisa mungkin saya harus berusaha sendiri mencari uang untuk menanggung konsekuensi pilihanku tersebut. Dengan bermodal khusnudzon dan mengesampingkan kekhawatiran tentang biaya kuliah, saya yakin saja bahwa pasti nanti Tuhan kasih rejeki. Dan benar saja, rejeki itu datang disaat kita benar-benar membutuhkannya. Mungkin bisa jadi lewat teman, saudara, bos, tetangga atau bahkan sampai orang yang tidak pernah kita kira sebelumnya. Yang paling penting buang kekhawatiran yang tidak perlu, tetap berjuang berusaha tanpa berpikir nanti akan berakhir seperti apa. Percayakan saja hasilnya pada pemilik kekuasaan tertinggi di alam semesta ini.

Masa depan akan datang dengan sendirinya. Lakukan saja apa yang sekarang sedang dihadapi. Masa depan masih dalam tabir ghaib, yang belum tersingkap. Misalnya saya analogikan dengan keadaan saya saat ini. Ada banyak kekhawatiran tentang bagaimana saya bisa membayar SPP semester 4 nanti? Boro-boro semester 4, semester 3 saja masih baru akan mulai. Bukankah harus melewati semester 3 dulu baru sampai ke semester 4. Siapa tahu nanti semester 4 saya mendapatkan kembali beasiswa atau malah sebaliknya dan harus membayar SPP. Daripada saya menghabiskan tenaga, pikiran dan hati untuk memikirkan hal yang masih mau akan terjadi. Lebih baik saya fokus berjuang dengan semester 3 yang sudah didepan mata. Mencari judul tesis jauh lebih berfaedah dari pada galau mikirin bayar SPP semester 4. Khusnudzon aja pasti akan selalu ada rejeki. Misalnya tiba-tiba saya ketiban proyek besar atau tiba-tiba ada yang ngasih mahar beasiswa sampai lulus. Hehehe (bercanda)

Jangan sampai kita termasuk orang yang menagis sedih menatap masa depan, yang khawatir tidak akan kebagihan rejeki. Apalagi khawatir tidak mendapatkan jodoh. Setiap orang pasti sudah disediakan rejeki jodoh. Hanya saja berbeda bagaimana dan kapan dipertemukan, bisa jadi di pertemukan di dunia ini atau di sisi dunia yang lain. Yuk kurang-kurangi khawatir berlebihan yang tidak perlu, sebab hari ini kita sudah sangat sibuk.

 

Tulungagung, 16 September 2020

Komentar

  1. Mantab, inspiratif sekali. Percaya pada ar-rizqu min haitsu laa yahtasib.

    BalasHapus
  2. Insekure dan overthinking,. Jika dikembalikan, sesungguhnya segala sesuatu tergantung niatnya.,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insecure dan overthinking khasanah laknu ya 😂

      Hapus
  3. lagi di posisi insecure dan overthinking hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer